Dapat dolar gratiss.. tak kasih tau carane yo

Senin, 20 April 2009

SENDRATARI BALI

Drama dan tari tidak dapat dipisahkan. Keduanya seperti dua warna permukaan daun sirih, sama-sama mengandung rasa dan aroma yang tidak berbeda. Budaya Bali memiliki banyak sekali ragam kesenian Drama dan Tari. Ini menunjukkan bahwa budaya kita sangat beradab.
Drama dan tari penuh dengan simbol-simbol. Baik simbol dari kehidupan nyata maupun simbol kehidupan alam lain dan mimpi-mimpi. Hanya peradaban manusia yang mengerti arti simbol.

Simbolisme yang digambarkan oleh para seniman drama dan tari di Bali sangat komunikatif. Tidak hanya menghibur hati, tetapi dapat memberikan pedoman yang mudah dicerna tentang benar dan salah, tentang baik dan buruk. Drama dan tari tidak hanya menghubungkan nalar dan rasa antar manusia, tetapi juga menghubungkan alam sekala dan niskala manusia secara harmonis dan estetis. Mengalir terus dipenuhi dengan inovasi baru yang tak pernah terbendung.
Berikut ini jenis dan macam-macam drama dan tari yang termasuk dalam kesenian di Bali :

1. Abuang
2. Arja
3. Baris
4. Barong
5. Cak
6. Calonarang
7. Drama gong
8. Drama klasik
9. Gambuh
10. Gebug
11. Janger
12. Jauk
13. Joged
14. Kekebyaran
15. Kontemporer
16. Mresi
17. Pendet
18. Prembon
19. Rejang
20. Sanghyang
21. Topeng
22. Makare-kare
23. Wayang Wong
24. WayangKulit
25.DramaTradisional

1. ABUANG
Abuang atau Mabuang merupakan tari hiburan dalam upacara penyimpanan Bhatara Bagus Selonding atau disebut upacara ngalemekin, yang ditampilkan sehari setelah upacara tersebut dan tari ini terdapat di desa Tenganan.

2. ARYA
Nama Arja di duga berasal dari kata Reja (bahasa sansekerta) yang berarti keindahan. Arja adalah semacam opera khas Bali, merupakan sebuah dramatari yang dialognya ditembangkan secara macapat. Dramatari Arja ini adalah salah satu kesenian yang sangat digemari di kalangan masyarakat.
Arja diperkirakan muncul pada tahun 1820-an, pada masa pemerintahan raja Klungkung I Dewa Agung Sakti. Tiga fase penting dalam perkembangan Arja adalah:
1. Munculnya Arja Doyong (Arja tanpa iringan gamelan, dimainkan oleh satu orang).
2. Arja Gaguntangan (yang memakai gamelan Gaguntangan dengan jumlah pelaku lebih dari satu orang).
3. Arja Gede ( yang dibawakan oleh antara 10 sampai 15 pelaku dengan struktur pertunjukan yang sudah baku seperti yang ada sekarang).
Gamelan yang biasa dipakai mengiringi Arja disebut Gaguntangan yang bersuara lirih dan merdu sehingga dapat menambah keindahan tembang yang dilantunkan oleh para penari.
Sumber lakon Arja yang utama adalah cerita Panji (Malat), kemudian lahirlah sejumlah cerita seperti Bandasura, Pakang Raras, Linggar Petak, I Godogan, Cipta Kelangen, Made Umbara, Cilinaya dan Dempu Awang yang dikenal secara luas oleh masyarakat.
Arja juga menampilkan lakon-lakon dari cerita rakyat seperti Jayaprana, Sampik Ingtai, Basur dan Cupak Grantang serta beberapa lakon yang diangkat dari cerita Mahabharata dan Ramayana. Lakon apapun yang dibawakan Arja selalu menampilkan tokoh-tokoh utama yang meliputi Inya, Galuh, Desak (Desak Rai), Limbur, Liku, Panasar, Mantri Manis, Mantri Buduh dan dua pasang punakawan atau Panasar kakak beradik yang masing - masing terdiri dari Punta dan Kartala. Hampir semua daerah di Bali masih memiliki grup-grup Arja yang masih aktif.

3. BARIS
Sebagai tarian upacara, sesuai dengan namanya "Baris" yang berasal dari kata bebaris yang dapat diartikan pasukan maka tarian ini menggambarkan ketangkasan pasukan prajurit. Tari ini merupakan tarian kelompok yang dibawakan oleh pria, umumnya ditarikan oleh 8 sampai lebih dari 40 penari dengan gerakan yang lincah cukup kokoh, lugas dan dinamis, dengan diiringi Gong Kebyar dan Gong Gede. Setiap jenis, kelompok penarinya membawa senjata, perlengkapan upacara dan kostum dengan warna yang berbeda, yang kemudian menjadi nama dari jenis- jenis tari Baris yang ada. Tari-tarian Baris yang masih ada di Bali antara lain :
3.1. Baris Dadap
Baris yang membawa senjata dapdap (semacam perisai), gerakannya lebih lembut dari jenis-jenis tari Baris lainnya dan penarinya menari sambil menyayikan tembang berlaras slendro dengan diiringi gamelan Angklung yang juga berlaras slendro dan ditarikan dalam upacara Dewa Yanya kecuali di daerah Tabanan ditarikan dalam upacara Pitra Yadnya, banyak dijumpai didaerah Bangli, Buleleng, Gianyar dan Tabanan.
3.2. Baris Pendet
Tari baris yang para penarinya tampil tanpa membawa senjata perang melainkan sesaji (canang sari), ditarikan dalam upacara Dewa Yadnya. Di desa Tanjung Bungkak (Denpasar) penari baris ini membawa canang yang disebut canang oyod dan pada bagian akhir tariannya, para penari menari menggunakan kipas sambil "ma-aras-arasan" atau bersuka ria.
3.3. Baris Gede
Baris yang membawa senjata keris dan perisai yang dinamakan Tamiang, dapat dijumpai di daerah Badung.
3.4. Baris Bedil
Baris ini ditarikan oleh beberapa pasang penari yang membawa imitasi senapan berlaras panjang (bedil) terbuat dari kayu, ditampilkan dalam upacara Dewa Yadnya dan terdapat di daerah Klungkung, Bangli dan Badung.
3.5. Baris Cendekan
Baris ini ditarikan oleh beberapa pasang penari yang membawa senjata tombak yang pendek (cendek), ditampilkan dalam upacara Dewa Yadnya.
3.6. Baris Jangkang
Baris ini ditarikan oleh penari-penari yang membawa senjata tombak panjang, ditampilkan dalam upacara Dewa Yadnya dan terdapat di daerah Bangli, Gianyar, dan Klungkung (Nusa Penida).
3.7. Baris Demang
Ditarikan oleh sekelompok penari yang menggambarkan tokoh Demang (salah satu dari tokoh Pagambuhan) dalam drama tari klasik Gambuh dengan senjatanya pedang, tumbak, panah dan lain-lainnya. Tari Baris ini terdapat di daerah Buleleng.
3.8. Baris Mamedi
Tarian ini menggambarkan sekelompok roh halus (mamedi) yang hidup ditempat angker seperti kuburan, para penarinya memakai busana yang terbuat dari dedaunan dan ranting yang diambil dari kuburan. Gamelan pengiring tarinya gamelan Balaganjur. Tarian diselenggarakan dalam rangka upacara Pitra Yadnya (ngaben) dan terdapat di daerah Tabanan.
3.9. Baris Gowak
Tarian yang melukiskan peperangan antara pasukan Tegal Badeng (Badung) dengan sekelompok burung gagak pembawa kematian, di mana beberapa pasang penarinya memerankan prajurit Tegal Badeng dan yang lainnya sebagai sekelompok burung gagak dengan kostum yang memakai sayap. Tarian ini sangat disucikan oleh masyarakat desa Selulung, Kintamani (Bangli) dan terdapat dalam Upacara Dewa Yadnya.
3.10. Baris Jojor
Tarian baris yang ditarikan sekelompok penari dengan membawa senjata Jojor (tombak bertangkai panjang) terdapat dalam upacara Dewa Yadnya dan ada di daerah Buleleng, Bangli dan Karangasem
3.11. Baris Tengklong
Tari yang dibawakan oleh sekelompok penari dengan senjata pedang, gerakannya dinamis, perkasa dan mendekati gerakan pencak silat. Khusus ditampilkan dalam upacara di Pura Penambangan Badung, tepatnya di desa Pamedilan Kodya
3.12. Baris Tumbak
Baris yang membawa senjata tombak dan berbusana awiran berlapis - lapis ditarikan dalam upacara Dewa Yadnya, banyak dijumpai di daerah Badung, Bangli dan Gianyar.
3.13. Baris Presi
Para penari baris ini membawa senjata keris, dan sejenis perisai yang dinamakan presi. Diadakan dalam kaitannya dengan upacara Dewa Yadnya. Banyak dijumpai di daerah Bangli dan Buleleng.
3.14. Baris Bajra
Baris yang membawa senjata gada dengan ujungnya berbentuk bajra (seperti gada Bhima) dan ditarikan dalam upacara Dewa Yadnya serta dapat dijumpai di daerah Bangli dan Buleleng.
3.15. Baris Kupu-kupu
Sesuai dengan temanya, tari Baris ini melukiskan kehidupan binatang kupu-kupu dan penarinya mengenakan sayap kupu-kupu, gerakannya lincah dan dinamis menirukan gerak-gerik kupu-kupu. Hingga kini tari ini ada di desa Renon dan Lebah (Denpasar).
3.16. Baris Cina
Tari Baris ini diduga mendapat pengaruh budaya Cina, keunikannya terlihat dari tata busana (celana panjang dengan baju lengan panjang, selempang kain sarung, bertopi, berkacamata hitam serta memakai senjata pedang), geraknya (mengambil gerakan pencak silat), dan iringannya (gamelan Gong Bheri yaitu Gong tanpa moncol). Tarian ini menggambarkan pasukan juragan asal tanah Jawa yang datang ke Bali. Tarian ini ditampilkan dalam upacara Dewa Yadnya dan terdapat di desa Renon dan Belanjong, Sanur (Denpasar).
3.17. Baris Panah
Baris ini ditarikan oleh beberapa pasang penari yang membawa senjata panah dan ditampilkan dalam upacara Dewa Yadnya, terdapat di daerah Buleleng dan di Bangli.
3.18. Baris Gayung
Baris ini ditarikan oleh sekelompok penari yang terdiri dari para pemangku dengan membawa gayung atau cantil (alat untuk membawa air suci), ditampilkan dalam upacara Dewa Yadnya dan terdapat di daerah Bangli, Gianyar serta Badung.
3.19. Baris Cerekuak
Tarian yang menggambarkan gerak-gerik sekelompok burung air (cerekuak) ketika mencari kekasihnya, burung manuk dewata. Para penarinya memakai busana babuletan (kain yang dicawatkan sampai di atas lutut) dengan hiasan dari daun- daunan pada sekujur tubuh dan kepala, hanya ditampilkan dalam upacara Pitra Yadnya (Ngaben) dengan Gamelan pengiringnya Batel Gaguntangan. Tarian baris tersebut terdapat di daerah Tabanan.
3.20. Baris Katujeng
Tari ini menggambarkan sekelompok roh halus yang hidup di tempat angker yang dimaksudkan sebagai tari pengantar atman orang yang meninggal menuju sorga, dibawakan oleh sekelompok penari yang mengenakan busana dari dedaunan. Tari baris ini dipertunjukan dalam upacara Pitra Yadnya (Ngaben).
Tari Baris yang mempergunakan senjata tombak tetapi gerakannya perlahan-lahan seperti jalannya siput (Omang), menggambarkan pertempuran antara pasukan Tegal Badeng (Badung) dengan pasukan Guwak (burung gagak). Tarian ini sangat disucikan oleh masyarakat Selulung (Kintamani - Bangli, dan terdapat dalam upacara Dewa Yadnya.
3.21. Baris Kuning
Merupakan tarian upacara Dewa Yadnya yang ditarikan oleh sekelompok penari pria yang berbusana serba kuning dan bersenjatakan keris dan tamiang (perisai), terdapat di daerah Buleleng.
3.22. Baris Kelemet
Tarian ini dibawakan oleh sekelompok penari yang memerankan para nelayan, dengan senjata semacam dayung dan menggambarkan orang naik sampan di laut untuk menangkap ikan, tari ini ada dalam upacara Dewa Yadnya dan terdapat di daerah Badung.

4. BARONG
Tarian ini merupakan peninggalan kebudayaan Pra Hindu yang menggunakan boneka berwujud binatang berkaki empat atau manusia purba yang memiliki kekuatan magis.
Topeng Barong dibuat dari kayu yang diambil dari tempat-tempat angker seperti kuburan, oleh sebab itu Barong merupakan benda sakral yang sangat disucikan oleh masyarakat Hindu di Bali. Pertunjukan tari ini dengan atau tanpa lakon, selalu diawali dengan pertunjukan pembuka, yang diiringi dengan gamelan yang berbeda-beda seperti Gamelan Gong Kebyar, Gamelan Babarongan, dan Gamelan Batel. Jenis-jenis Barong yang hingga kini masih ada di Bali adalah sebagai berikut :

4.1. Barong Ket
Barong Ket atau Barong Keket adalah tari Barong yang paling banyak terdapat di Bali dan paling sering dipentaskan serta memiliki pebendaharaan gerak tari yang lengkap. Dari wujudnya, Barong Ket ini merupakan perpaduan antara singa, macan, sapi atau boma. Badan Barong ini dihiasi dengan ukiran-ukiran dibuat dari kulit, ditempel kaca cermin yang berkilauan dan bulunya dibuat dari perasok (serat dari daun sejenis tanaman mirip pandan), ijuk atau ada pula dari bulu burung gagak.
Untuk menarikannya Barong ini diusung oleh dua orang penari yang disebut Juru Saluk / Juru Bapang, satu penari di bagian kepala dan yang lainnya di bagian pantat dan ekornya. Tari Barong Keket ini melukiskan tentang pertarungan kebajikan (dharma) dan keburukan (adharma) yang merupakan paduan yang selalu berlawanan (rwa bhineda). Tari Barong Ket diiringi dengan gamelan Semar Pagulingan.
4.2. Barong Bangkal
Bangkal artinya babi besar yang berumur tua, oleh sebab itu Barong ini menyerupai seekor bangkal atau bangkung, Barong ini biasa juga disebut Barong Celeng atau Barong Bangkung. Umumnya dipentaskan dengan berkeliling desa (ngelelawang) oleh dua orang penari pada hari-hari tertentu yang dianggap keramat atau saat terjadinya wabah penyakit menyerang desa tanpa membawakan sebuah lakon dan diiringi dengan gamelan batel / tetamburan.
4.3. Barong Asu
Barong ini menyerupai anjing (asu) dan termasuk jenis Barong yang langka, hanya terdapat di beberapa desa di daerah Tabanan dan Badung. Biasanya dipentaskan dengan berkeliling desa (ngelelawang) pada hari-hari tertentu tanpa lakon dengan diiringi gamelan batel / tetamburan atau Balaganjur.
4.4. Barong Brutuk
Tarian yang langka, menggambarkan makhluk-makhluk suci (para pengiring Ida Ratu Pancering Jagat) yang berstana di Pura Pancering Jagat, Trunyan. Penarinya adalah remaja yang telah disucikan dan mengenakan busana yang terbuat dari daun pisang kering (keraras), memakai topeng dari batok kelapa, setiap orang membawa cambuk yang dimainkan sambil berlari-lari mengelilingi pura, diiringi dengan gamelan Balaganjur / Babonangan. Barong ini terdapat di daerah Trunyan-Kintamani (Bangli).
4.5. Barong Kadingkling
Barong ini disebut juga Barong Blasblasan, pementasannya secara ngelelawang, para penarinya hanya mengenakan topeng Wayang Wong dengan lakon cuplikan-cuplikan dari cerita Ramayana terutama adegan perang dan setiap tokoh dimainkan oleh satu orang penari yang masih anak-anak, dipentaskan pada hari-hari Raya Galungan maupun Kuningan diiringi dengan gamelan batel dan ada pula yang semacam babonangan (gamelan batel yang dilengkapi dengan reyong). Barong ini terdapat di daerah Gianyar, Bangli dan Klungkung.
4.6. Barong Gajah
Barong ini menyerupai gajah, ditarikan oleh dua orang dan termasuk jenis barong yang langka sehingga dikeramatkan warga masyarakat pengemongnya. Dipentaskannya secara berkeliling desa (ngelelawang) tanpa membawakan lakon dan diiringi dengan gamelan batel / tetamburan. Barong ini terdapat di daerah Gianyar, Tabanan, Badung dan Bangli.
4.7. Barong Macan
Sesuai dengan namanya, Barong ini menyerupai seekor macan dan termasuk jenis barong yang terkenal di kalangan masyarakat Bali. Dipentaskannya dengan berkeliling desa dan adakalanya dilengkapi dengan suatu dramatari semacam Arja serta diiringi dengan gamelan batel.
4.8. Barong Landung
Barong ini mula-mula dipakai untuk mengelabui barisan makhluk halus ganas yang menebar segala bencana penyakit dan marabahaya ke perkampungan penduduk Bali. Makhluk-makhluk halus tersebut dipercaya sebagai anak buah dan hulubalang Ratu Gede Mecaling yang menyeberangi lautan dari Nusa Penida. Oleh seorang pendeta sakti, kemudian penduduk disarankan untuk membuat patung yang mirip sang majikan, tinggi besar, hitam dan bertaring, dan diberi nama Jero Gede Mecaling, atau Ratu Mecaling. Karena itu masyarakat segera membuat tiruan Jero Gede Mecaling dan mengaraknya berkeliling kampung untuk membuat para makhluk halus itu takut dan menyingkir. Sirnalah segala macam penderitaan yang menghantui penduduk selama ini. Untuk penghormatan kepada tiruan Jero Gede, dibuatlah pasangannya yang biasa dipanggil Jero Luh. Kedua Barong Landung itu sering dihibur, diajak berjalan-jalan dan dibuatkan keramaian supaya bisa menari dan bersenang-senang.
Tinggi Barong Landung itu kira-kira dua kali ukuran manusia. Orang yang memperagakannya mendapat penglihatan melalui celah-celah yang dianyam di bagian perut sang Barong.
5. CAK
Dalam keyakinan masyarakat Hindu Bali, keseimbangan antara alam gaib dan manusia harus selalu diupayakan agar tidak terjadi kemurkaan pada kerusakan alam semesta. Legenda dan mitos juga selalu mengikat pandangan dan sikap batin mereka dari generasi ke generasi.
Gerak lentur tubuh yang terbungkus dalam sebuah tarian adalah salah satu cara masyarakat Pulau Dewata ini untuk menyapa dewa-dewa penguasa jagad ini. Misalnya, seperti yang selalu dilakukan ribuan masyarakat Tabanan, Bali ketika melakukan pemujaan pada dewa-dewa dengan menggelar tari kecak atau tari kebebasan di kawasan Pura Sad Kahyangan, Tanah lot.
Tarian kecak ini merupakan jenis tari Bali yang paling unik tarian Bali yang paling populer. Kenapa unik ? Karena tarian ini tidak diiringi alat musik atau gamelan seperti layaknya sebuah seni tari. Semua musik, dan suara berasal dari manusia. Suara manusia yang kompak, dan beruntun membuat suasana benar-benar hidup. Dan hanya ada beberapa suara yang berasal dari kincringan di kaki beberapa penari.paduan suara dari 100 orang pria. Tarian ini juga dikatakan tarian paling populer karena mampu menyedot ribuan wisatan domestik maupun wisatawan luar negri untuk menikmati keunikan tarian ini.
Bona adalah sebuah desa yang terkenal sebagai lahirnya tarian kecak yang merupakan tarian warisan leluhur warga Desa Pakraman Bona. Keberadaan kecak di Desa Bona secara autentik tidak ditemukan. Namun, tarian kecak di Desa Bona diperkirakan tumbuh dan berkembang sejak 1817. Dihubungkan dengan letusan Gunung Krakatau yang di Bali dikenal dengan istilah gejor/jeger (bencana gunung meletus) yang berdampak pada masyarakat Bona dengan mewabahnya penyakit sampar (grubug agung). Hal ini ditemukan dalam kajian lontar yang disebut lontar Aji Kecacar.
Dengan keyakinan masyarakat setempat mereka memohon keselamatan ke Pura Puseh. Saat melakukan permohonan keselamatan inilah masyarakat banyak yang kapangluh atau mengalami trans. Dalam keadaan trans beberapa di antaranya menari, menginjak api dengan suara riuh. Pada saat peristiwa tersebut dialami oleh masyarakat Bona, mereka tidak mempunyai gamelan dari perunggu. Warga yang kapangluh meminta agar diiringi gamelan. Sejak itu, masyarakat Bona banyak mengalami kejadian aneh-aneh.
Gejor ke-2 yang dikenal dengan meletusnya Gung Agung di Besakih (1917), kembali berdampak pada kehidupan masyarakat yang mengakibatkan paceklik.
Kehadiran sosok I Gusti Lanang Krebek, yang mengakomodasikan dan menghubungkan suara riuh yang terjadi. Perpaduan antara suara alam, katak dan perpaduan bunyi benda-benda yang dibunyikan oleh masyarakat menjadi suara cek.
Pada awalnya tarian ini hanya dipergunakan sebagai tarian sakral yang dipentaskan saat sesuhunan tedun. Masuknya Belanda ke Bali khususnya di Bona, membawa perubahan yang besar terhadap kehadiran kecak di Bona. Tarian kecak kemudian dipentaskan di setiap sudut desa. Setiap ada tamu mereka disambut dengan tarian kecak dengan imbalan uang gulden. Hal itu berlangsung selama delapan tahunan.
Menginjak tahun 1925 dibentuk wadah seni tarian kecak dengan sebutan Sekaa Ganda Wisma.
Perkembangan kecak Bona juga tidak terlepas dari kedatangan beberana orang asing, seperti Meiyer, Khant, Bonnet yang tinggal di daerah Bedulu. Mereka ikut mempromosikan seni kecak Bona. Dengan semakin terkenalnya tari kecak semakin banyak mengundang orang asing yang datang sampai sekaa kewalahan menerima order pentas.
Pemindahan kekuasaan dari Belanda ke Jepang (1942) malah membawa angin segar bagi keberadaan kecak di Bona. Karenanya dibentuk sekaa kecak lagi. Perubahan politik di Indonesia juga mempengaruhi keberadaan seni kecak. Hingga akhirnya di tahun 1986 muncul lagi Sekaa Kecak Bona Sari yang merupakan penggabungan antara Sekaa Kecak Ganda Wisma dengan Ganda Sari.
Cerita yang disajikan dalam tarian kecak diangkat dari Titi Situbanda, sebuah kisah dalam Ramayana mengenai perjuangan Raja Rama merebut kembali istrinya, Dewi Sita, yang diculik oleh Raja Rahwana dari Negari Alengka.
Negari Alengka terletak di seberang lautan. Raja Rama bersama pasukannya, yang terdiri atas ribuan kera, pun bahu-membahu membangun sebuah jembatan menuju negara tersebut. Para kera tersebut bekerja demi sang pemimpin.
Berlawanan dengan kepercayaan, awalnya tari kecak adalah tarian sakral Sang Hyang yang menggambarkan seseorang berada pada kondisi tidak sadar dan kerasukan yang kemudian roh berkomunikasi dengan para dewa atau leluhur yang sudah disucikan. Dengan menggunakan si penari sebagai media penghubung para dewa atau leluhur dapat menyampaikan sabdanya. Namun, sejak tahun 1930-an, tarian ini berubah menjadi kesenian tradisional tersendiri yang menyajikan sendratari dengan latar belakang cerita Ramayana.
Tarian itu menceritakan tentang Epos Ramayana, yang terbagi menjadi lima babak, yang menggambarkan perlawanan antara yang baik dan jahat melalui kisah Rama, yang harus menyelamatkan istrinya Sinta. Di masing-masing babak menyuguhkan adegan yang sangat ringan dan mudah dimengerti oleh siapa saja. Tari Kecak sendiri bercerita tentang kisah Ramayana. Rhama, Shinta, Rahwana, Hanoman, Sugriwa dan nama-nama lain muncul dalam wujud penari.
Adapun kisah Ramayana dalam pentas kolosal ini diawali dari cerita Dewi Sinta yang diculik oleh kaum raksasa yang dipimpin Rahwana. Istri Rama itu diculik untuk dinikahkan secara paksa oleh Sang Dasa Muka. Kumba Karna sebagai raja dari Kerajaan Alengka selalu melindungi Rahwana. Rama dan Rahwana akhirnya berduel untuk menyelamatkan Sinta.
Dalam duel tersebut, Rama memenangkan perkelahian karena berprinsip pada kebenaran yang selalu menuai kemenangan saat melawan kejahatan.
Pura Sad Kahyangan, yang terletak di Pantai Tanah Lot, Tabanan, pura yang berdiri tegak menjorok ke pantai merupakan salah satu pura inti di Bali yang menyimpan dan menyebarkan kekuatan spiritual untuk menjaga Pulau Dewata dari bencana laut. Pura itu dibangun oleh Dang Hyang Dwi, pendeta dari Kerajaan Majapahit, pada abad ke-15 sebagai tempat pertapaan untuk memuja dewa penguasa laut atau Dewa Baruna.
Pura tersebut adalah salah satu tempat yang sering mengadakan acara ritual yang menggelar tari Kecak. Tari kecak digelar di alam terbuka di sekitar Pura Sad Kahyangan usai matahari terbenam yang dihadiri ribuan warga Tabanan yang mengikuti acara ritual rutin untuk memohon doa kepada roh leluhur dan Sang Pencipta agar terhindar dari berbagai bencana.
Sebelum pertunjukan dimulai, acara diawali dengan kegiatan sembahyang di tempat pertunjukan yang dipimpin Pedande, sebutan buat seorang pemuka agama. Ritual singkat ini adalah bagian dari persiapan untuk meminta restu dari Sang Pencipta. Sementara itu, salah satu piranti tari kecak yang dimilikinya seperti gelungan juga harus disembahyangkan. Ini dilakukan karena gelungan yang akan dipakai dalam peran Kumba Karna akan memancarkan karisma tersendiri saat dipakai pada tubuh si penari.
Selepas Pedande memberikan pemberkatan dengan air suci yang diperoleh melalui persembahyangan, pertunjukan pun dimulai dengan iringan suara khas para penari pendukung. Dalam Drama Tari Kecak ini para para penari kecak memfunyai fungsi yang bermacam-macam, mereka dapat berfungsi sebagai kera bala tentara Rama, sebagai raksasa tentara Rawana, sebagai panah ular atau rantai senjata Indrajit
Di awal pertunjukan, sekitar 50 orang berjalan memasuki pelataran pura, mereka adalah rombongan penari kecak. Penari – penari tersebut kebudian berbaris melingkari sebuah kayu dengan beberapa lilin di atas kayu tersebut. Tinggi kayu tersebut kira-kira 2 meter. Penari- penari tersebut kemudian duduk melingkar dan bersaf, orang-orang itu terbagi dalam beberapa nada suara, sehingga jika dipadukan terdengar bagus, kompak, dan hidup. sedangkan para pelaku utama Tari Kecak ini menari dengan posisi berdiri dan pelaku-pelaku utama tersebut datang dari luar lingkaran.
Pertunjukan Tari Kecak sangat sederhana sekali, baik mengenai teknik tariannya, perlengkapan pakaiannya dan pengiring tariannya yang hanya berupa koor. Adapun penarinya terdiri dari laki-laki yang jumlahnya sampai ratusan. Pakaian mereka hanya sehelai kain yang dijawatkan yaitu kain saput poleng atau kain hitam putih yang merupakan lambang dunia kebaikan dan kejahatan dan bagian atas badan tidak memakai apa-apa. Mereka membuat lingkaran beberapa saf, dan ditengah-tengah mereka terdapat lampu penerang yang sederhana pula, yaitu lampu minyak kelapa.
Semula mereka hanya menggoyangkan tubuh ke kanan dan ke kiri secara ritmis serta melambaikan tangan mereka sambil mengucapkan kata-kata cak - cak - cak - cak - cak dan seterusnya dengan irama yang agak lambat. Lama-kelamaan iramanya menjadi cepat dan dengan disertai angkatan tangan yang digetar-getarkan. Dalam suasana yang demikian ini, dibarengi juga pula dengan suara-suara desis seperti suara kera atau raksasa. Dalam saat-saat tertentu penari-penari kecak yang setengah lingkaran merebahkan diri ke belakang secara serentak dan dilakukan bergantian.
Pada saat-saat tertentu, sebagian penari kecak merebahkan diri ke belakang secara serentak dan dilakukan bergantian. Meneriakkan semangat kebesaran leluhur adalah salah satu semangat yang diusung pada acara ini. Jemari-jemari tangan yang digetarkan seakan memanggil leluhur mereka nan jauh di sana untuk hadir bersama mereka. Kecak dalam pandangan para penari ini adalah catatan jiwa memohon kepada Sang Pencipta.
Tarian Kecak juga melibatkan anak-anak di dalam skenarionya. Dalam pertunjukkan itu anak-anak membunyikan kata-kata "cik..cik..cik" yang berbeda dengan orang dewasa yang membbuyikan "cak..cak...cak".

6. CALONARANG
Dramatari ritual magis yang melakonkan kisah-kisah yang berkaitan dengan ilmu sihir, ilmu hitam maupun ilmu putih, dikenal dengan Pangiwa / Pangleyakan dan Panengen. Lakon-lakon yang ditampilkan pada umumnya berakar dari cerita Calonarang, sebuah cerita semi sejarah dari zaman pemerintahan raja Airlangga di Kahuripan (Jawa timur) pada abad ke IX. Cerita lain yang juga sering ditampilkan dalam drama tari ini adalah cerita Basur, sebuah cerita rakyat yang amat populer dikalangan masyarakat Bali. Karena pada beberapa bagian dari pertunjukannya menampilkan adegan adu kekuatan dan kekebalan (memperagakan adegan kematian bangke-bangkean, menusuk rangda dengan senjata tajam secara bebas) maka Calonarang sering dianggap sebagai pertunjukan adu kekebalan (batin).
Dramatari ini pada intinya merupakan perpaduan dari tiga unsur penting, yakni Babarongan diwakili oleh Barong Ket, Rangda dan Celuluk, Unsur Pagambuhan diwakili oleh Condong, Putri, Patih Manis (Panji) dan Patih Keras (Pandung) dan Palegongan diwakili oleh Sisiya-sisiya (murid-murid). Tokoh penting lainnya dari dramatari ini adalah Matah Gede dan Bondres. Karena pagelaran dramatari ini selalu melibatkan Barong Ket maka Calonarang sering disamakan dengan Barong Ket. Pertunjukan Calonarang bisa diiringi dengan Gamelan Semar Pagulingan, Bebarongan, maupun Gong Kebyar. Dari segi tempat pementasan, pertunjukan Calonarang biasanya dilakukan dekat kuburan (Pura Dalem) dan arena pementasannya selalu dilengkapi dengan sebuah balai tinggi (trajangan atau tingga) dan pohon pepaya.

7. DRAMA GONG
Drama Gong adalah sebuah bentuk seni pertunjukan Bali yang masih relatif muda usianya yang diciptakan dengan jalan memadukan unsur-unsur drama modern (non tradisional Bali) dengan unsur-unsur kesenian tradisional Bali. Dalam banyak hal Drama Gong merupakan pencampuran dari unsur-unsur teater modern (Barat) dengan teater tradisional (Bali). Nama Drama Gong diberikan kepada kesenian ini oleh karena dalam pementasannya setiap gerak pemain serta peralihan suasana dramatik diiringi oleh gamelan Gong (Gong Kebyar). Drama Gong diciptakan sekitar tahun 1966 oleh Anak Agung Gede Raka Payadnya dari desa Abianbase (Gianyar). Diakui oleh penciptanya bahwa Drama Gong yang diciptakan dengan memadukan unsur-unsur drama tari tradisional Bali seperti Sendratari, Arja, Prembon dan Sandiwara dimaksudkan sebagai sebuah prembon (seni campuran) modern.
Unsur-unsur teater modern yang dikawinkan dalam Drama Gong antara lain :tata dekorasi, penggunaan sound effect, acting, tata busana.
Karena dominasi dan pengaruh kesenian klasik atau tradisional Bali masih begitu kuat, maka semula Drama Gong disebut "drama klasik".
Adalah I Gusti Bagus Nyoman Panji yang kemudian memberikan nama baru (Drama Gong) kepada kesenian ini berdasarkan dua unsur baku (drama dan gamelan gong) dari kesenian ini. Patut dicatat bahwa sebelum munculnya Drama Gong di Bali telah ada Drama Janger, sebuah kesenian drama yang menjadi bagian dari pertunjukan tari Janger. Dalam banyak hal, drama Janger sangat mirip dengan Sandiwara atau Stambul yang ada dan populer sekitar tahun 1950.
Drama Gong adalah sebuah drama yang pada umumnya menampilkan lakon-lakon yang bersumber pada cerita-cerita romantis seperti cerita Panji (Malat), cerita Sampik Ingtai dan kisah sejenis lainnya termasuk yang berasal dari luar lingkungan budaya Bali. Dalam membawakan lakon ini, para pemain Drama Gong tidak menari melainkan berakting secara realistis dengan dialog-dialog verbal yang berbahasa Bali.
Para pemeran penting dari Drama Gong adalah: Raja manis, Raja buduh, Putri manis, Putri buduh, Raja tua, Permaisuri, Dayang-dayang, Patih keras, Patih tua, Dua pasang punakawan
Para pemain mengenakan busana tradisional Bali, sesuai dengan tingkat status sosial dari peran yang dibawakan dan setiap gerak pemain, begitu pula perubahan suasana dramatik dalam lakon diiringi dengan perubahan irama gamelan Gong Kebyar. Masyarakat Bali mementaskan Drama Gong untuk keperluan yang kaitannya dengan upacara adat dan agama maupun kepentingan kegiatan sosial. Walaupun demikian, Drama Gong termasuk kesenian sekuler yang dapat dipentaskan di mana dan kapan saja sesuai dengan keperluan. Kesenian Drama Gong inilah yang memulai tradisi pertunjukan "berkarcis" di Bali karena sebelumnya pertunjukan kesenian bagi masyarakat setempat tidak pernah berbentuk komersial. Drama Gong mulai berkembang di Bali sekitar tahun 1967 dan puncak kejayaannya adalah tahun1970. Pada masa itu kesenian tradisional Bali seperti Arja, Topeng dan lain-lainnya ditinggalkan oleh penontonnya yang mulai kegandrungan Drama Gong. Panggung-panggung besar yang tadinya menjadi langganan Arja tiba-tiba diambil alih oleh Drama Gong. Namun semenjak pertengahan tahun 1980 kesenian ini mulai menurun popularitasnya, sekarang ini ada sekitar 6 buah sekaa Drama Gong yang masih aktif.
Sekaa - sekaa Drama Gong yang dimaksud antara lain adalah : Drama Gong Bintang Bali Timur , Drama Gong Duta Budaya Bali, Drama Gong Dewan Kesenian, Drama Gong Dwipa Sancaya dan lain-lain.
Terakhir muncul Drama Gong Reformasi yang didukung oleh para bintang Drama Gong dari berbagai daerah di Bali.
7.1. Drama Gong: SEKAR PAMUNGKAS
Babak pertama dikisahkan di kerajaan Kahoripan telah memerintah seorang Raja Putri dengan seorang Putranya yang sudah perjaka yang bernama Raden Predana Putra. Sang Raja merasa bingung karena telah berkali-kali datanag surat dari Pejarakan, yang isi surat tersebut antara lain agar Putra beliau mau mengambil Putri Pejarakan sebagai Permaisuri. Pada suatu hari Sang Raja mengadakan peparuman. Pada peparuman tersebut Sang Raja meminta pertimbangan putra beliau. Yang ternyata Putra beliau sependapat dengan beliau bahwa Putranya Raden Predana Putra tidak mau kawin dengan Putri Pejarakan Diah Sekar Ungu. Pada saat peparuman sedang ramaenya tiba-tiba datang Bentar melaporkan bahwa ada utusan dari Deha Pura. Utusan tersebut mengatakan bahwa di Deha Pura telaha ditimpa kemalangan. Raja Deha Pura beserta beberapa panjak beliau sudah meninggal dibunuh oleh Raksasa. Tetapi Putri Beliau telah dilarikan entah kemana.
Babak kedua dikisahkan pada saat Raja Kahoripan mengadakan peparuman tiba-tiba datang utusan dari Deha yang mengatakan bahwa kerajaan Deha telah diusak-asik olek seorang raksasa. Raja Deha telang meninggal. Dan kini putri Deha Diah Purbasari telah diculik entah dibawa kemana. Raja Kahoripan menyuruh putranya Raden Predana Putra untuk mencari adik sepupunya tersebut. Kesempatan tersebut diisi oleh Raja Pejarakan untuk membawa anaknya ke Kahoripan. Karena sejak lama lamaran Raja Pejarakan tidak dibalas oleh raja Kahoripan, karena Putra Kehoripan Raden Predana Putra tidak berminat untuk mengawini Sekar Ungu Putri Pejarakan. Raja Pejarakan membawa Putrinya ke Kahoripan, walaupun tidak ada Putra Raja di Puri beliau sanggup menunggu walaupun beberapa bulan.
Babak ketiga dikisahkan di Kerajaan Kahoripan Rahaden Predana Putra telah di tunggu oleh Diah Sekar Ungu. Karena Diah Sekar Ungu ingin sekali untuk menjadi istri dari Rahaden Predana Putra. Atas saran Raja Istri Kahoripan agar Sekar ungu tidak usah menunggu Rahaden Predana Putra karena belum tentu Rahaden Predana Putra mau mengawini Diah Sekar Ungu. Tetapi Diah Sekar Ungu bersih keras menunggu, dan tidak mau pulang. Sementara di Pesraman Raja Buduh telah berhasil mencuri pusaka Hyang Begawan yang berupa cincin dan lontar untuk dibawa pulang ke Pejarakan. Pada saat yang bersamaan Rahaden Predana Putra yang dari Kahoripan telah berada di hutan untuk menolong Diah Purbasari yang telah dicuri oleh seorang raksasa. Setelah sekian lama beliau menjelajahi hutan tersebut akhirnya diketemukan juga tempat raksasa tersebut. Kemudian Diah Purbasari dengan Luh Cablek berhasil diselamatkan. Mereka akhirnya diajak kembali ke Kahoripan
Babak keempat dikisahkan setelah berhasil membunuh raksasa yang melarikan Diah Purbasari kemudian Rahaden Predana Putra kembali ke Kahoripan dengan mengajak Diah Purbasari. Sampai di tengah jalan mereka bertemu dengan Rombongan Raja Buduh. Raja Buduh jatuh hati kepada Diah Purbasari. Kemudian memasang guna-guna agar rombongan Rahaden Predana Putra mengantuk dan tidur lelap. Dengan demikian mudahlah untuk memboyong Diah Purbasari. Tetapi setelah rombongan Rahaden Predana Putra tidur. Petruk ikut tidur karena terlena oleh kecantikan Luh Cablek. Setelah Petruk tidur rombongan Rahaden Predana Putra telah bangun dan melanjutkan perjalanan. Datanglah rombongan Raja Buduh yang mencari-cari dimana gerangan rombongan Rahaden Predana Putra tertidur. Ditemukanlah Petruk yang tergeletak sendirian di tempat dimana telah dipasang sesirep. Raja Buduh telah gagal memasang pasirep tersebut. Kemudian tibalah rombongan Predana Putra di Kahoripan. Predana Putra kaget karena dia telah ditunggu oleh Sekar Ungu untuk diajak kawin. Rahaden Predana putra tidak ada minat untuk kawin dengan Sekar Ungu karena telah membawa Purbasari yang akan dijadikan permaisuri. Maka timbulah niat buruk dari Raja Pejarakan kemudian menyuruh Patih Agung untuk memasang guna-guna agar Predana Putra mau berbalik mengawini Sekar Ungu.
Pada babak kelima dikisahkan di Kerajaan Kahoripan Rahaden Predana Putra telah kena guna yang dipasang oleh Patih Agung. Kini dia telah lupa kepada istrinya Diah Purbasari dan mengira bahsa Sekar Ungulah istrinya. Kemudian Rahaden Predana Putra menyuruh Diah Purbasari untuk pulang dan tidak mengganggu perkawinan Rahaden Predana Putra dengan istrinya. Raja Pejarakan kemudian mengajak Diah Purbasari untuk pulang ke Pejarakan, Diah Purbasari tidak mau karena rumah beliau adalah di Deha. Kemudian Patih Agung berbaik hati menawarkan untuk mengantarkan ke Deha. Diah Purbasari mau saja diantarkan oleh Patih Agung karena dia mengira maksud Patih Agung adalah baik. Tetapi Diah Purbasari tidak diantarkan ke Deha melainkan ke Hutan dengan maksud akan dibunuh. Setelah sampai di hutan Diah Purbasari disiksa dan kemudian baahunya di lilit dengan selendang milik Diah Purbasari. Setelah Patih Agung pergi tiba-tiba datang Patih Anom yang bermaksud untuk memberikan pertolongan kepada Diah Purbasari. Kemudian Diah Purbasari dipungut oleh Patih Anom.
Pada babak keenam dikisahkan Raja Buduh telah bertemu dengan Patih Anom di tengah alas. Raja Buduh tidak mengetahui bahwa itu adalah Patih Anom dari Kerajaan Kahoripan. Raja Buduh mengira Patih Anom adalah seorang dukuh yang hidup di hutan bersama dua orang putrinya. Kedua putri tersebut tiada lain adalah Diah Purbasari dengan Luh Cablek. Raja Buduh melamar anak dukuh tersebut untuk dijadikana permaisuri. Karena dirasa ini adalah kesempatan yang baik oleh Patih Anom maka diapun memberikan putrinya untuk dijadikan permaisuri, dengan syarat agar bungkung dan lontar yang di dapat dari pesraman diserahkan kepada Patih Anom. Karena merasa senang mendapatkan istri yang cantik maka Raja Buduhpun memberikan kedua pustaka itu tanpa berpikir panjang. Raja Buduhpun kembali melanjutkan perjalanannya ke Pejarakan dengan membawa calon permaisurinya. Tetapi sampai di tengah jalan muncul lagi Patih Anom untuk memberikan tirta kepada rombongan Raja Buduh yang akan berangkat ke Pejarakan agar selamat. Setelah diberikan tirta semuanya mengantuk. Maka kesempatan itu tidak disia-diakan oleh Patih Anom untuk membawa lari kembali Diah Purbasari. Setelah bangun Raja Buduh terkejut karena calon permaisurinya tidak ada lagi. Maka Raja Buduh marah, kemudian berangkat ke Kahoripan untuk minta tolong kepada Ayahnya. Sampai di Kahoripan sudah dilaksanakan upacara perkawinan bagi Rahaden Predana Putra dengan Diah Sekar Ungu. Kemudian Diah Purbasari menyamar sebagai Sang Arjuna dalam sendratari yang akan menghibur pengantin di Kahoripan. Pada saat sendratari berlangsung maka Luh cablek mendapatkan kesempatan untuk menaburkan bunga pamungkas ke tubuh Rahaden Predana Putra. Maka Rahaden Predana Putra segera sadar akan dirinya dan tahu bahwa yang diajak kawin bukanlah Diah Purbasari. Maka terjadilah perkelahian antara Rahaden Predana Putra dengan patih Agung.
7.2. Drama Gong: SRI AJI PALAKA
Pada babak yang pertama dikisahkan di Bedahulu memerintah seorang Raja yang bernama Maya Denawa dan beliau mempunyai seorang putra. Berkat daya upaya Patih Agung maka Raja Maya Denawa akhirnya dibunuh. Patih Agung tidak puas karena putra Raja Maya Denawa masih hidup. Maka timbulah niatnya untuk membunuh Putra dengan maksud agar dia bisa menjadi Raja di Bedahulu. Tapi sayang rencananya didengar oleh Patih Werda. Berkat kebaikan Patih Werda Putra disuruh pergi meninggalkan Bali pergi ke tanah Nusa agar Patih Agung tidak bisa menjalankan niat busuknya.
Pada babak yang kedua dikisahkan Putra telah sampai di tanah Nusa. Di Nusa beliau dipungut oleh Jero Pasek Nusa. Agar tidak diketahui maka beliau diakui sebagai anak oleh Jero Pasek Nusa. Disana beliau terpikat oleh Luh Wedani anak dari Jero Pasek Nusa.
Pada babak yang ketiga dikisahkan pada suatu saat Putra pergi memancing dengan Luh Wedani. Putra digulung oleh ombak yang besar dan hanyaut terbawa arus. Seketika itu Luh Wedani pingsan. Kemudian ada sabda bahwa Putra di suruh membangun pura di Pucak Wedi oleh Dewa Laut. Dewa Laut juga bersabda bahwa mulai sekarang Luh Wedani sudah sah menjadi istri Putra. Pada suatu saat Luh Wedani menemui Putra ditempat membangun pura. Karena pura belum selesai Putra pura-pura tidak kenal dengan Luh Wedani. Kemudian Dewa Laut yaitu Naga Basuki keluar memberikan seorang putra kepada Putra dan Luh Wedani yang diberi nama Sri Aji Palaka.
7.3. Drama Gong: AMBARAWATI
Pada babak yang pertama dikisahkan di pesaraman Ukir Sari seorang Bagawan atau guru mempunyai murid yang begitu banyak. Diantaranya adalah Ambarawati dan Ambarasari yang berasal dari Ambaramadia sedangkan murid lakinya yang terkenal adalah Wisnu Temaja dari Wisnu Segara. Didalam menuntut ilmu di pesraman Ukir Sari Wisnu Temaja jatuh cinta dengan Ambarawati.
Pada babak yang kedua dikisahkan Di Ambaramadia putri Ambarawati dipaksa oleh ayah dna ibunya agar mau belajar di pesaraman Ukir Sari. Jika tidak mau ibunya akan marah terus kepadanya. Demi untuk menyelamatkan ibunya, Ambarawatipun mau belajar ke Ukir Sari.
Pada babak yang ketiga dikisahkan maksud dari ibu tiri menyekolahkan Ambarawati ke pesraman Ukir Sari tiada lain untuk mempertemukan Ambarawati dengan Raja Wesi Geni dari Diling Wesi agar mereka bisa menjalin hubungan cinta. Setelah Ambarawati berangkat, Raja Wesi Geni segera di utus ke pesraman Ukir Sari agar belajar juga disana. Murid di Ukir Sari menjadi semakin banyak. Di Pesraman Ukir Sari Ambarawati terpikat hatinya oleh Raja Wisnu Temaja.
Pada babak yang keempat dikisahkan Wisnu Temaja cemburu karena Ambarawati menyambut kedatangan Wesi Geni. Tapi akhirnya mereka bisa rukun kembali. Tibalah saatnya kenaikan kelas. Semua murid telah selesai belajar dan dinyatakan lulus oleh gurunya dan akan pulang kerumahnya masing-masing kecuali Raja Wesi Geni yang gagagal didalam menempuh ujian sehingga dia tidak lulus. Sebelum pulang Wisnu Temaja telah berjanji akan melamar Ambarawati. Kemudian Wisnu Temaja datang ke Puri Ambaramadia untuk melamar Ambarawati. Tapi lamarannya ditolak karena Ambarawati sudah dijodohkan dengan Wesi Geni. Berkat bantuan Patih Anom Ambarawati dapat diculik atau dilarikan oleh Wisnu Temaja.
Pada babak yang kelima dikisahkan ditengah perjalanan pada saat istirahat Wisnu Temaja dan Ambarawati sempat tidur. Hal ini dimanfaatkan oleh ibu tirinya untuk memasang guna-guna sehingga Ambarawati bisa diambil kembali dan dibawa pulang ke Ambaramadia. Sampai dirumahnya Ambarawati dikawinkan dengan Wesi Geni. Pada saat upacara perkawinan berlangsung Wisnu Temaja dan punakawannya menyamar sebagai penari yang akan turut memeriahkan upacara perkawinan Wesi Geni dengan ambarawati. Sehingga pada saat acara tarian Ambarawati sadar dan bisa mengenali ibu kandungnya sendiri. Dan akhirnya dia bisa kembali lagi kepada Wisnu Temaja.
7.4. Drama Gong: MANGGALA DUSTA
Pada babak pertama dikisahkan di Karang Kepatihan, Patih Agung mempunyai 2 orang putri yang bernama Gusti Ayu Nawang Wulan dan Gusti Ayu Nawang Sari. Mereka bersaudara saling mengasihkan dan sangat menyayangi ayahnya. Di Deha putra mahkota sedang marah-marah karena ingin kawin tapi belum punya pacar. Atas saran Raja dan permaisuri putra mahkota agar mencari pacar dulu agar bisa melangsungkan perkawinan.
Pada babak kedua dikisahkan di Pedukuhan hidup satu keluarga yang letaknya sangat terpencil. Mereka adalah Apel, Gangsar, Made Sila dan kedua orang tua mereka. Pada suatu hari Made Sila dan temannya ingin ke kota untuk mencari pekerjaan. Setelah mendapat restu dari orang tua maka mereka berangkat mengadu nasib ke kota.
Pada babak ketiga dikisahkan putra mahkota yang dalam perjalanannya mencari pasangan hidup mendengar kabar bahwa anaknya Patih Agung cantik-cantik sekali. Maka dia pergi kesana untuk mengecek kebenaran berita tersebut. Ternyata memang benar apa yang dikatakan oleh orang bahwa Nawang Sari kecantikannya melebihi bidadari. Putra mahkota menjadi gila akan kecantikan putri Patih Agung. Mereka kemudian mengajak putri Patih Agung ke pasar untuk melihat keadaan. Ternyata dipasar mereka bertemu dengan Made Sila dan teman-temannya. Karena sakeng kasihannya maka Maka Nawang Sari meminta agar Made Sila mau di ajak ke Karang Kepatihan untuk dijadikan abdi. Putra mahkota segera pulang dan minta kepada permaisuri agar segera melamar Nawang Sari.
Pada babak keempat dikisahkan di Karang Kepatihan Nawang Sari terpikat hatinya kepada Made Sila. Pada suatu hari Made Sila dan Nawang Sari memadu kasih ditaman. Hal tersebut diketahui oleh Patih Agung sehingga hatinya menjadi panas dan marah sekali. Tanpa sepengetahuan Nawang Sari Made Sila di ajak ke tengah hutan dan disanalah dia dibunuh oleh Patih Agung. Gangsar dan Apel bingung karena Made Sila tidak lagi ada di Karang Kepatihan dan merekapun kembali ke Pedukuhan. Demikian juga Nawangsari mengetahui made Sila sudah tidak tidak ada maka merekapun meninggalkan Karang Kepatihan dan hal ini tidak diketahui oleh Patih Agung. Maka tibalah saatnya ayah dari putra mahkota akan meminang Nawang Sari. Patih Agung sangat senang sekali karena anaknya sudah dipinang oleh Raja. Namun setelah dicek maka Nawang Sari telah tiada. Raja sangat kecewa demikian juga Patih Agung yang merasa kecolongan oleh tingkah laku Made Sila.
Pada babak kelima dikisahkan Nawang Sari telah menyamar menjadi seorang laki-laki agar tidak diketahui identitasnya. Nawang Sari juga sempat menolong Made Sila yang ada dalam keadaan sekarat. Untuk membalas kebaikan Nawang Sari maka Made Sila mengajak Nawang Sari untuk tinggal di pondoknya. Patih Werda dan Dadab yang ditugaskan untuk melacak keberadaan Nawang Sari berhasil membawanya ke puri bersama Made Sila dan teman-temannya. Di hadapan Raja dan permaisuri dibeberkan semua rahasia yang terpendam selama ini oleh Patih Werda. Made Sila tiada lain adalah Putra Raja Kahuripan yang disembunyikan oleh Patih Werda. Nawang Sari adalah putri Raja dan putra mahkota adalah putra Patih Agung. Hal ini terjadi karena kelicikan Patih Agung menukar mereka pada saat bayi dengan tujuan agar putra Patih Agung bisa menduduki singgasana kerajaan.
7.5. Drama Gong: SANG AJI DARMA
Pada babak pertama dikisahkan Sang Aji Darma dalam keadaan sedih karena ditinggal mati oleh istrinya. Dia bermaksud untuk ikut mati (mesatia) yaitu dengan jalan menceburkan diri kedalam api. Karena simbingan kedua kambing yang ada tidak jauh dari dia maka dia mengurungkan niatnya untuk mesatia. Tetapi dia berjanji untuk mencari kehidupan istrinya yang akan datang (nemitis) kembali untuk dijadikan istri. Atas doa restu Raja dan permaisuri Sang Aji Darmapun berangkat melanglang buana untuk mencari temitisan istrinya dengan di iringi oleh Mekele Gede dan Ptaih Madri.
Pada babak yang kedua dikisahkan perjalanan Sang Aji Darma sudah sampai di Alas Maya. Disana dia kawin dengan dua orang putri Prabu Alas Maya yang bernama Widata dan Widati.
Pada Babak ketiga dikisahkan Setiap malam Widata dan Widati tdak ada ditempat tidur. Sang Aji Darma curiga dan mengutus Dadab dan Kiyul menyelidiki tingkah laku Widata dan Widati. Ternyata Widata dan Widati adalah orang yang menjalankan ilmu hitam (leak). Untuk memancing kemarahan Widata dan Widati, Sang Aji Darma memberikan oleh-oleh kepala manusia dan tangan manusia kepada Widata dan Widati. Widata kemudian menjadi marah dan menyihir Sang Aji Darma menjadi Belibis.
Pada babak yang keempat dikisahkan Belibis tersebut kemudian dipungut oleh Gangsar dan Gingsir. Pada suatu hari Belibis itu hilang dan ternyata Belibis itu sedang pacaran dengan putri Raja Praja Negara. Karena sakeng akrabnya dengan Belibis itu sampai-sampai putri menjadi hamil, tapi putri malu mengatakan bahwa yang menghamilinya adalah Belibis yang tiada lain adalah penjelmaan dari Sang Aji Darma. Raja menjadi sangat marah karena putrinya menjadi bisu tidak mau mengatakan dengan terus terang siapa yang menghamilinya. Maka dicarikanlah orang yang pintar yang tahu siapa sebetulnya yang menghamili putrinya. Dengan diketahuinya bahwa yang menghamili putri Raja itu tiada lain adalah Sang Aji Darma maka Raja merasa sangat senang. Karena Sang Aji Darma itu adalah Raja yang sangat arip dan bijaksana.
7.6. Drama Gong: LOKIKA SANGGRAHA
I Made Manik Lara hidup ditengah hutan. Banyak teman-temannya mengatakan bahwa dia adalah anak bebinjat yaitu anak tanpa ayah. Berkat penuturan ayah angkat yang mengasuhnya maka dia tahu bahwa ayahnya adalah seorang Raja yang berkuasa di Suarna Dwipa. Made Lara kemudian pergi ke Suarna Dwipa dengan maksud menjumpai ayahnya. Setelah Raja tahu bahwa Made Manik Lara ibunya Luh Jepun maka Rajapun mengakui Made Manik Lara adalah anaknya.
7.7. Drama Gong: TANTING MAS TATING RAT
Tanting Mas (Walu Nateng Dirah) dan Tanting Rat (Empu Beradah) adalah dua orang yang bersaudara. Tanting Mas menjalankan ilmu hitam sedangkan Tanting Rat menjalankan ilmu putih (suci). Untuk mengalahkan Tanting Mas maka Tanting Rat menyuruh anaknya Empu Bahula untuk mencuri buku kesaktian Tanting Mas. Untuk menjalankan niatnya itu maka Empu Bahula pura-pura mengawini Diah Ratna Mengali anak dari Tanting Mas dengan maksud agar segala kesaktian ibunya bisa diungkapkan. Sehingga pada saat Tanting Mas lengah maka buku tersebut dapat dicuri oleh Empu Bahula. Yang kemudian buku tersebut diserahkan kepada ayahnya Empu Beradah (TAnting Rat). Karena semua rahasia sudah diketahui oleh Tanting Rat maka dalam suatu pertempuran Tanting Mas dapat dikalahkan.
7.8. Drama Gong: SATYAWATI
Dikisahkan Darmaputra adalah anak Patih Agung yang telah lama menjalin hubungan cinta dengan putri Raja yaitu Candrawati. Dengan hubungan yang intim itu maka Candrawati menjadi ngidam. Mendengar hal itu Raja sangat senang karena sebentar lagi Raja akan mempunyai seorang cucu. Tapi alangkah terkejutnya setelah Raja mendengar bahwa pacar putrinya tiada lain adalah Darmaputra anak dari Patih Agung. Maka Patih Agung di utus untuk membunuh Darmaputra yang tiada lain adalah anaknya sendiri. Darmaputrapun kemudian tewas ditangan ayahnya. Mendengar hal itu maka Candrawati ingin bunuh diri. Tapi untung Batara Durga segera bersabda menerangkan keadaan yang sebenarnya. Darmaputra tiada lain adalah seorang putra Raja Amerta Pura. Candrawati menjadi lega. Kemudian atas permintaan Candrawati yang tulus kehadapan Batara Durga maka Darmaputrapun dihidupkan kembali dan merekapun bisa hidup bersama-sama lagi.

8. DRAMA KLASIK
8.1. Drama Klasik: SATYA EVA JAYATE
Diceritrakan Newata Kuwaca sedang mengobrak-abrik sorga karena lamarannya ditolak oleh para Dewata untuk mempersunting Supraba. Supraba merasa kasihan melihat sorga diobrak abrik sehingga Supraba dan Arjuna mengatur siasat untuk membunuh Newata Kuwaca. Supraba berpura-pura mau menjadi istri Newata Kuwaca. Dengan kenyataan ini akhirnya Newata Kuwaca menyerahkan segalanya kepada Supraba. Sampai akhirnya rahasia kesaktian yang dimiliki Newata Kuwaca terbongkar oleh Supraba yang sudah di intip oleh Arjuna. Akhirnya pada saat Newata Kuwaca lengah Arjuna meluncurkan panah ke pusat kesaktian Newata Kuwaca yaitu pada pangkal lidahnya yang menyebabkan Newata Kuwaca meninggal dunia seketika.
8.2. Drama Klasik: SETAN MANTARA
Dikisahkan Mantara adalah seorang pelayan kerajaan khususnya melayani Dewi Kekayi. Pada suatu hari Rama akan dinobatkan menjadi Raja di Ayodia Pura. Mantara sangat tidak setuju kalau Rama menjadi Raja. Kemudian Mantara membujuk Dewi Kekayai agar membatalkan penobatan Rama. Dewi Kekayipun kena hasutan Mantara untuk memohon kepada Raja agar Rama dibatalkan menjadi Raja. Dewi Kekayi mengajukan 2 permintaan kepada Raja yaitu pertama agar Barata dinobatkan menjadi Raja di Ayodia Pura. Kedua agar Rama dibuang ketengah hutan selama 14 tahun. Raja tidak bisa berbuat banyak, dia harus memenuhi 2 permintaan tersebut karena pada saat Dewi Kekayi dipersunting Raja berjanji akan memenuhi 2 permintaan atau permohonan. Nah sekaranglah kesempatan yang bagus bagi Dewi Kekayi untuk menuntut janji Raja. Sehingga dengan hati yang berat akhirnya Raja merelakan Rama terbuang ditengah hutan. Ramapun menerimanya dengan lapang dada.
8.3. Drama Klasik: 3 BUAH DOSA
Dikisahkan 3 buah dosa yaitu satwam, rajas, tamas ialah sifat raksasa Maisa Sura dan Lembu Sura. Pada suatu ketika sorga digempur oleh dua orang raksasa yaitu Maisa Sura dan Lembu Sura. Batara Indra merasa prihatin pada keadaan sorga. Maka dari itu Dewa Indra menyebarkan sayembara. Barang siapa yang bisa mengalahkan kedua raksasa tersebut maka dia akan diberikan hadiah Dewi Tara. Akhirnya yang memenangkan sayembara tersebut adalah Sugriwa dan dia berhak memboyong Dewi Tara.
8.4. Drama Klasik: GUGURNYA KUMBAKARNA
Dikisahkan Negeri Alengka dalam keadaan kritis. Maka dari itu Rahwana minta tolong kepada Kumbakarna untuk menghadapi Rama. Kumbakarna mau berperang melawan Rama bukan berarti dia membela Rahwana tetapi dia berperang demi membela tanah airnya. Kumbakarna akhirnya gugur dalam peperangan menghadapi pasukan Rama. Mendengar Kumbakarna gugur Dewi Kasuari istri Kumbakarna sangat sedih dan akhirnya dia bunuh diri atau mesatya.
8.5. Drama Klasik: PERANG JAGARAGA
Diceritrakan di Buleleng di daerah Jagaraga yang telah menjadi dijajah oleh Belanda kini sekarang sedang mengadakan perlawanan. Rakyat beserta Raja yaitu Gusti Jelantik dan Jero Jempiring karena tidak kuasa menghadapi penjajah akhirnya mengungsi ke Jagaraga. Disana beliau membangun kekuatan benteng-benteng pertahanan. Sehingga pada suatu ketika beliau merampas kapal Belanda beserta isinya karena masuk ke wilayah kerajaan. Belanda tidak mau membayar atau mengikuti hak tawan karang Raja. Hal tersebutlah kemudian menyebabkan terjadinya peperangan. Namun malang menimpa rakyat dan Raja yaitu Gusti Jelantik dan Jero Jempiring akhirnya tewas dalam pertempuran itu.
8.6. Drama Klasik: PECOK SAANG
Dikisahkan Patih Jelantik di utus oleh Batara Dalem untuk membunuh Dalem Bungkut didaerah Nusa. Hal tersebut merupakan beban berat bagi Patih Jelantik karena Dalem Bungkut sangat tersohor kesaktiannya. Atas saran dan bekal dari istrinya yang berupa sanjata Pecok Saang Patih Jelantikpun berangkat ke Nusa. Dengan senjata Pecok Saang Dalem Bungkut baru bisa terbunuh.
8.7. Drama Klasik: SEBELUM TENGAH HARI
Diceritakan hari raya Kuningan merupakan hari raya yang bertujuan menghormati para Batara atau Leluhur kita. Disini juga diceritakan sesajen yang digunakan pada hari raya Kuningan. Jadi makna yang tersirat dalam hari raya Kuningan adalah bagaimana kita menghormati orang tua kita baik semasih hidup ataupun sesudah meninggal dunia.
8.8. Drama Klasik: DIRGAHAYU
Diceritrakan Dirgahayu adalah seorang abdi kerajaan. Tanpa sepengetahuan Raja, Dirgahayu telah menjalin hubungan cinta dengan putri Raja. Pada saat sedang bercinta ditaman Sari Dirgahayu dicari oleh ayahnya untuk dibawa menghadap Raja. Dirgahayu kemudian di utus untuk mencari putra mahkota negeri Melawa yang telah hilang 20 tahun yang lalu. Karena Raja takut putra mahkota tersebut akan membalas dendam kepada Raja karena Raja telah membunuh Raja dan Permaisuri negeri Melawa. Raja tidak tahu sebenarnya yang dicari adalah Dirgahayu yang tiada lain adalah putra mahkota negeri Melawa yang menyamar sebagai abdi untuk balas dendam. Karena dalam penyamarannya Dirgahayu telah jatuh cinta dengan putri Raja, maka dia mengurungkan niatnya untuk membalas dendam kepada Raja.
8.9. Drama Klasik: PAGI YANG KUNING JIWA YANG HENING
Dikisahkan Men Sruni akan balas dendam atas kematian anak gadisnya. Anak gadisnya mati bunuh diri karena setelah hamil tidak mau dinikahi oleh Wayan Sanggra. Men Sruni membuat I Sanggra sakit yang berkepanjangan. Setelah itu Men Sanggar minta petunjuk orang yang dianggap bisa ilmu hitam untuk menetralisir permasalahannya karena dia sendiri sadar bahwa dirinya tidak bisa apa-apa. Akan tetapi di masyarakat sudah santer terdengar kabar bahwa kedua orang tua tersebut ahli dalam ilmu hitam dan akan mengadakan pertempuran dimalam hari. Nah ceritra ini diangkat karena dianggap menarik dimasyarakat dalam rangka memperingati hari raya Kuningan. Dibagian akhir dari ceritra ini di isi dengan penjelasan tentang tata cara memperingati hari raya Kuningan.
8.10. Drama Klasik: SUMANGMANG
Diceritrakan Sumangmang adalah salah satu murid Walu Nateng Dirah yang dapat melarikan diri dari pertempuran antara pasukan Empu Beradah dengan pasukan Walu Nateng Dirah. Pasukan Walu Nateng Dirah semuanya mati kecuali Sumangmang. Dia sekarang sudah menjadi orang yang sangat sakti dan dia akan menuntut balas atas kematian Walu Nateng Dirah. Daerah yang menjadi sasarannya adalah Desa Lembah Tulis yang tiada lain merupakan pemukiman pasukan Empu Beradah.

9. DRAMA TRADISIONAL
9.1. Drama Tradisional: RORO JONGGRANG
Dikisahkan Roro Jonggrang adalah putri yang sangat cantik. Dia mempunyai seorang kakak yang bernama Karung Kolo. Dua bersaudara ini tinggal di Negeri Prambanan. Roro Jonggrang sudah lama menjalin hubungan asmara dengan Bandung Bondowoso dari negeri Pengging. Tetapi sayang kakak Jonggrang yaitu Karung Kolo tidak setuju dengan Bandung Bondowoso karena Prambanan sejak lama sudah bermusuhan dengan Pengging. Pada suatu saat terjadi pertempuran antara Prambanan dengan Pengging. Dalam pertempuran itu Karung Kolo terbunuh oleh Bandung Bondowoso. Mendengar hal itu Jonggrang menjadi marah dan membenci Bandung Bondowoso. Kemudian pada saat Bandung Bondowoso melamar Jonggrang maka Jonggrang minta satu syarat yaitu apabila Bandung Bondowoso bisa membuatkan 1000 candi dalam waktu satu malam. Dengan kekuatan gaibnya Bandung Bondowoso memenuhi permintaan Jonggrang. Dan pada saat candi telah selesai 999 buah maka Jonggrang membuat suatu siasat untuk menghambat pekerjaan pembuatan candi. Jonggrang menyuruh rakyatnya membuat api dan menumbuk padi agar suasana nampak seperti sudah pagi. Dengan siasat ini maka Bandung Bondowoso menjadi gelisah. Maka dari itu karena Jonggrang berbuat curang Bandung Bondowoso mengutuk Jonggrang menjadi sebuah Patung.
9.2. Drama Tradisional: SARIP TAMBAK OSO
Dikisahkan Sarif adalah orang miskin yang mempunyai tambak di daerah Oso. Sarif sudah 3 tahun tidak mampu membayar pajak kepada Goeverment (penjajah). Sarif terus dikejar-kejar oleh orang-orang Goeverment. Akhirnya Sarif mati ditangan orang-orang Goverment.
9.3. Drama Tradisional: CANDHIK ALA
Dikisahkan karena jasanya Suwilojoyo diangkat menjadi adipati diperbatasan Kaparpatan oleh Raja Tejo Basuntoro yang memerintah di Widio Kerto. Suwilojoyo mempunyai seorang putra yang bernama Kristanto. Pada suatu saat Kaparpatan diserang oleh negeri Sindek. Dalam menghadapi musuhnya Suwilojoyo dibantu oleh Moyowerdi seorang prajurit. Akhirnya negeri Sindek dapat ditaklukan oleh Suwilojoyo.
9.4. Drama Tradisional: BANCAK GUGAT
Dikisahkan ada seorang Raja yang memerintah bernama Lembu Amsari dengan seorang putrinya Dewi Tami Oye. Pada suatu saat Dewi Tami Oye dilamar oleh 2 orang Raja yaitu Kolono Joyo Dimurti dan Panji Inu Kertapati. Dewi Tami Oye bingung memilih satu diantara kedua pemuda tersebut. Dewi Tami Oye akirnya mengajukan persyaratan kepada kedua pemuda tersebut yaitu barang siapa yang bisa mencarikan 2 pengiring pengantin yang satu putih mulus dan yang satu hitam legam maka dialah yang akan diterima lamarannya. Akhirnya yang mendapatkan Dewi Tami Oye adalah Bancak (abdi laki-laki) yang berwarna putih mulus.
9.5. Drama Tradisional: CUPAK GRANTANG
Dikisahkan Cupak dan Grantang adalah dua orang yang bersaudara yang berasal dari Desa Bukit Sambir. Mereka mengembara sampai ke Kerajaan Kediri. Di Kediri mereka mengikuti sayembara. Barang siapa yang berhasil membunuh Raksasa Menaru dialah yang berhak mempersunting putri Raja Kediri yaitu Ayu Mas Galuh dan akan diangkat menjadi raja di Kediri. Dalam pertempuran Cupak dan Grantang melawan Raksasa Menaru, Gerantanglah yang berhasil mengalahkan Raksasa Menaru. Maka Gerantanglah yang diangkat menjadi raja Kediri dan berhak mempersunting Ayu Mas Galuh. Cupak oleh karena tidak berhasil dan malu karena perbuatannya yang mengolok-ngolok Gerantang akhirnya memutuskan untuk mengembara lagi jauh dari kerajaan.

10. GAMBUH
Gambuh adalah tarian dramatari Bali yang dianggap paling tinggi mutunya dan merupakan dramatari klasik Bali yang paling kaya akan gerak-gerak tari sehingga dianggap sebagai sumber segala jenis tari klasik Bali.
Diperkirakan Gambuh ini muncul sekitar abad ke XV yang lakonnya bersumber pada cerita Panji. Gambuh berbentuk total theater karena di dalamnya terdapat jalinan unsur seni suara, seni drama & tari, seni rupa, seni sastra, dan lainnya.
Pementasannya dalam upacara-upacara Dewa Yadnya seperti odalan, upacara Manusa Yadnya seperti perkawinan keluarga bangsawan, upacara Pitra Yadnya (ngaben) dan lain sebagainya.
Diiringi dengan gamelan Penggambuhan yang berlaras pelog Saih Pitu. Tokoh-tokoh yang biasa ditampilkan adalah Condong, Kakan-kakan, Putri, Arya / Kadean-kadean, Panji (Patih Manis), Prabangsa (Patih Keras), Demang, Temenggung, Turas, Panasar dan Prabu. Dalam memainkan tokoh-tokoh tersebut semua penari berdialog, umumnya bahasa Kawi, kecuali tokoh Turas, Panasar dan Condong yang berbahasa Bali, baik halus, madya dan kasar.
Gambuh yang masih aktif hingga kini terdapat di desa : Batuan (Gianyar), Padang Aji dan Budakeling (Karangasem), Tumbak Bayuh (Badung), Pedungan (Denpasar),Apit Yeh (Tabanan), Anturan dan Naga Sepeha (Buleleng).

11. GEBUG ENDE
Tarian rakyat yang merupakan tari adu ketangkasan yang dibawakan oleh kaum pria, masing-masing penari membawa tongkat rotan dan sebuah perisai (tameng/ ende) yang berfungsi sebagai pelindung dari serangan lawan. Tarian ini dimaksudkan sebagai tarian untuk memohon hujan, dan terdapat di daerah Karangasem.

12. JANGER
Merupakan jenis tarian pergaulan, terutama bagi muda mudi, yang sangat populer di Bali yang dilakukan oleh sekitar 10 pasang muda-mudi. Selama tarian berlangsung kelompok penari wanita (Janger) dan kelompok penari pria (Kecak) menari dan bernyanyi bersahut-sahutan. Pada umumnya lagu-lagunya bersifat gembira sesuai dengan alam kehidupan mereka. Gamelan yang biasa dipakai mengiringi tari Janger disebut Batel (Tetamburan) yang dilengkapi dengan sepasang gender wayang. Munculnya Janger di Bali diduga sekitar abad ke XX, merupakan perkembangan dari tari sanghyang. Jika kecak merupakan perkembangan dari paduan suara pria, sedangkan jangernya merupakan perkembangan dari paduan suara wanita.
Lakon yang dibawakan dalam Janger antara lain: Arjuna Wiwaha, Sunda Upasunda dan lain sebagainya. Tari Janger dapat dijumpai hampir di seluruh daerah Bali, masing-masing daerah mempunyai variasi tersendiri sesuai dengan selera masyarakat setempat.
Di daerah Tabanan tari Janger biasa dilengkapi dengan penampilan peran Dag (seorang berpakaian seperti jenderal tentara Belanda dengan gerak-gerak improvisasi yang kadang-kadang memberi komando kepada penari Janger maupun Kecak).
Di desa Metra (Bangli) terdapat tari Janger yang pada akhir pertunjukannya para penarinya selalu kerauhan. Di desa Sibang (Badung) terdapat tari Janger yang diiringi dengan Gamelan Gong Kebyar yang oleh masyarakat setempat menamakannya Janger Gong. Sekaa Janger yang kini masih aktif antara lain Janger Kedaton (Denpasar) dan Janger Singapadu (Gianyar).

13. JAUK
Tarian bertopeng yang menggambarkan seorang raja raksasa yang sedang berkelana. Penarinya adalah pria, mengenakan busana yang terdiri dari awiran yang berlapis-lapis, ditambah dengan gelungan jauk dan kaos tangan yang berkuku panjang. Tarian ini lebih bersifat improvisasi dengan struktur koreografi yang fleksible.
Jenis tari Jauk ini antara lain : Jauk Keras (Jauk Enggang), Jauk Manis (Jauk longgor).

14. JOGED
Merupakan tari pergaulan yang sangat populer di Bali, tari ini memiliki pola gerak yang agak bebas, lincah dan dinamis, yang diambil dari Legong maupun Kekebyaran dan dibawakan secara improvisatif. Biasanya dipentaskan pada musim sehabis panen, hari raya, dan hari penting lainnya. Tari joged ini merupakan tarian berpasangan, laki-laki dan perempuan dengan mengundang partisipasi penonton.
Tari Joged mempunyai banyak macam, antara lain:
14.1. Joged Bumbung
Tari joged yang diiringi dengan gamelan tingklik bambu berlaras Slendro yang disebut Grantang atau Gamelan Gegrantangan. Tarian ini muncul pada tahun 1946 di Bali Utara dan kini Joged Bumbung dapat dijumpai hampir di semua desa dan merupakan jenis tari joged yang paling populer di Bali.
14.2. Joged Pingitan
Jenis joged yang dalam pementasannya membawakan suatu lakon dan diiringi dengan gamelan tingklik bambu yang berlaras Pelog, yang disebut Gamelan Joged Pingitan. Disebut Joged Pingitan karena di dalam pementasan tarian ini ada bagian-bagian yang dilarang (dipingit) yaitu pengibing hanya bisa menari untuk dapat mengimbangi gerak tari yang ditimbulkan oleh penari joged dan tidak boleh menyentuh penarinya. Repertoir yang biasa dijadikan suatu lakon adalah kisah Prabu Lasem dan di beberapa tempat ada juga yang mengambil cerita Calonarang. Berdasarkan data-data yang ada, joged ini muncul di Bali sekitar tahun 1884. Semula adalah tarian hiburan bagi raja yang konon penari-penarinya adalah para selir.
14.3. Joged Gebyog
Jenis tari joged yang diiringi dengan bumbung gebyog yang ritmis berlaras Slendro dan hanya terdapat didaerah Bali bagian barat (daerah Jembrana).
14.4. Joged Gandrung
Merupakan tari pergaulan yang penarinya laki-laki berhias dan berpakaian wanita, serta diiringi dengan seperangkat Gamelan Tingklik yang terbuat dari bambu yang berlaras pelog. Semula penari Gandrung ini lelaki muda usia berparas tampan namun sekarang Gandrung sudah ditarikan oleh penari wanita. Gandrung hanya dapat diketemukan di beberapa desa di Gianyar, Badung dan Denpasar.
Semua tari Joged (kecuali Joged Pingitan yang memakai lakon Calonarang), selalu ada bagian paibing-ibingannya yaitu tarian bermesraan. Diawali dengan penari joged memilih (nyawat) penonton laki-laki yang diajak menari bersama-sama di atas pentas. Sebagai sebuah kesenian rakyat, tari joged diiringi dengan barungan gamelan yang didominir oleh instrumen-instrumen bambu. Di daerah Tista, Tabanan ada sejenis tari Joged yang mendekati Legong Kraton yang disebut Leko, dan di Bongan Gede, Karangasem terdapat tari Joged yang dianggap sakral yang dinamakan Joged Bisama.

15. KEKEBYARAN
Tari Kekebyaran meliputi berbagai jenis tarian tunggal, duet, trio, kelompok dan sendratari. Tari-tari ini dikelompokan sebagai Kekebyaran bukan hanya karena diiringi dengan gamelan Gong Kebyar, namun karena gerakannya yang dinamis dan bernafas kebyar. Oleh sebab itu, dalam kelompok ini terdapat Tari Lepas dan Sendra Tari.
Tari Lepas adalah tari-tarian yang jangka waktu pentasnya relatif pendek, tidak berkaitan (terlepas-lepas) antara yang satu dengan lainnya, baik yang bercerita maupun tanpa cerita. Sendra Tari adalah sejumlah seni drama tari-tarian berlakon, yang berjangka waktu pentas relatif lebih panjang, dan dimainkan oleh lebih banyak orang.
15.1. Tari Lepas
Kelompok tari lepas adalah karya cipta profan yang biasanya dikhususkan untuk pertunjukan singkat namun menawan. Cerita dalam seni drama ini tidak saling berkaitan (terlepas-lepas) satu sama lain. Titik beratnya adalah perpaduan keindahan gerak, gamelan pengiring dan busana dan emosi thema yang diperagakannya. Berikut adalah tari-tarian yang masuk dalam kategori tari Lepas :
1. Merak 14. Sekarjagat 17. Magoak - goakan
2. Pendet 15. Puspawresti 18. Kebyar Duduk
3. Nelayan 16. Angkeran 19. Panji Semirang
4. Mregapati 17. Trunajaya 20. Oleg Tambulilingan
5. Cilinaya 18. Kupu-kupu 21. Baris "Papotetan"
6. Wiranata 19. Wirayudha 22. Cendrawasih
7. Gelatik 20. Manukrawa 23. Senapati Abhimayu
8. Rarad 21. Sekar Ibing 24. Dharma Putri
9. Gopala 22. Makepung 25. Baris (Tunggal)
10. Tenun 23. Yudhapati 26. Siwa Nataraja
11. Tani 24. Jaran Teji 27. Garuda Wisnu
12. Blibis 25. Saraswati 28. Baris Bandana Manggala Yuda
13. Gabor 26. Puspanjali 29. Satya Brastha
30. Kembang Pencak

15.1. 1. Merak
Ditarikan oleh sekelompok penari wanita, yang memerankan burung merak, cangak, dan sekelompok burung gelatik.
Tarian ini menggambarkan kehidupan sepasang burung merak bersama burung-burung lainnya. Dikisahkan seekor burung merak jantan yang sedang mencari makanan khusus, berupa buah Jali, untuk pasangannya yang sedang mengidam. Dalam pengembaraannya si Merak jantan berjumpa dengan sekelompok burung gelatik, yang sangat mengagumi keindahan warna bulu si burung merak, yang kemudian membantunya untuk mendapatkan buah jali yang dicarinya. Setibanya kembali, merak jantan sangat terkejut demi melihat betinanya digoda oleh seekor cangak. Perkelahian terjadi yang berakhir dengan kekalahan burung cangak. Merak betina menyongsong kedatangan jantan dengan penuh kemesraan.
Diciptakan oleh I Ketut Dibia Guna dari desa Tampak Siring, Gianyar pada tahun 1975.
15.1.2. Pendet
Tari ini diilhami oleh tarian sakral Pendet, yang dimodifikasi untuk kepentingan non-ritual. Tari ini merupakan tarian putri kelompok yang dibawakan oleh sekelompok remaja putri, masing-masing membawa sebuah mangkuk perak (bokor) yang penuh berisi bunga. Pada akhir tarian para penari menaburkan bunga ke arah penonton sebagai ucapan selamat datang.
Tarian ini biasanya dipakai untuk menyambut tamu-tamu atau untuk memulai suatu pertunjukan.
15.1.3. Nelayan
Tari ini menggambarkan kehidupan para nelayan di laut yang hidup dari hasil menangkap ikan. Tari ini banyak menampilkan gerak-gerak seperti mendayung, melempar jala, tertusuk duri ikan dan lain sebagainya.Tari ini adalah ciptaan I Ketut Merdana dari Buleleng sekitar tahun 1960.
15.1. 4. Mregap
Mregapati (mrega= binatang, pati= raja) adalah sebuah tarian yang melukiskan gerak-gerik seekor raja hutan (singa) yang sedang berkelana di tengah hutan untuk memburu mangsanya. Tari ini termasuk tari putra keras. Diciptakan oleh I Nyoman Kaler pada tahun 1942.
15.1.5. Cilinaya
Di dalam tradisi Bali, Cili adalah lambang kecantikan. Tarian ini melukiskan sekelompok wanita cantik, dengan gerakannya yang lemah gemulai, sedang menari-nari bersukaria sambil mempertontonkan kecantikan mereka. Ide tari an ini datang dari ornamen "Cili"yang terdapat dalam hiasan lamak Bali yang dibuat tatkala ada upacara adat atau agama.
15.1.6. Wiranata
Tari ini melukiskan gerak-gerik, sepak terjang yang gagah perkasa dari seorang Raja Muda. Keistimewaan tari ini adalah pada gerakan mata penarinya dan ekspresi wajahnya, dipadukan dengan keseluruhan gerakan yang ditarikannya.
Tari lepas tunggal ini biasa dibawakan oleh penari wanita. Diciptakan oleh I Nyoman Ridet pada tahun 1960-an.
15.1.7. Gelatik
Pada awalnya tarian ini diberikan nama tari Ngajah Gelatik. Awalnya penciptaan tari ini adalah timbulnya hasrat sang pencipta untuk melestarikan lingkungan hidup khususnya penyelamatan binatang.
Garapan ini dimaksudkan sebagai sindiran bagi para pemelihara burung gelatik yang memaksa burungnya (yang diikat lehernya) untuk terbang ke sana ke mari dengan cara memainkan tongkat tempat berpijak burung itu sendiri.
Ditarikan oleh 6 orang penari wanita yang memerankan burung gelatik, dan seorang penari pria sebagai pelatih burung gelatik, tarian ini merupakan ciptaan bersama dari dua seniman asal Bali Utara pada tahun 1981 oleh I Nyoman Arcana (penata tari) dan I Nyoman Mudana (penata iringan).
15.1.8. Rarad
Tarian Rarad ini menggambarkan pasukan kavaleri gerilya menunggang kuda. Ditarikan oleh sekelompok penari pria membawa tameng (perisai), tarian ini diciptakan pada tahun 1983 sebagai salah satu garapan baru yang ditampilkan dalam festival Tari Kreasi Baru se Bali di Taman Budaya Denpasar.
Tarian yang diilhami oleh tari Baris Dapdap, diciptakan secara kolektif oleh I Nyoman Sujena, Ida Bagus Karang dan I Nyoman Suarsa dengan Gamelan pengiring yang ditata oleh I Wayan Rundu, I Gusti Made Lumbung dan I Made Wira.Tarian ini adalah produksi sanggar Himpunan Seniman Remaja Daerah Tingkat II Kabupaten Badung.
15.1.9. Gopala
Gopala adalah sebuah istilah dalam bahasa Kawi yang berarti penggembala sapi. Berbentuk tari kelompok, dan biasanya ditarikan oleh 4 sampai 8 orang penari putra , Gopala menggambarkan tingkah laku sekelompok penggembala sapi di suatu ladang pengembalaan. Tarian ini mengandung gerak-gerak yang humoris dengan materi gerak yang merupakan perpaduan antara gerak-gerik tari Bali yang sudah ada yang telah dikembangkan dengan gerak-gerak baru.
Tarian ini adalah ciptaan bersama antara I Nyoman Suarsa (penata tari) dan I Ketut Gede Asnawa (sebagai penata iringan).
15.1.10. Tenun
Tari Tenun melukiskan seorang wanita Bali yang sedang menenun. Dalam tarian ini dilukiskan keindahan gerak-gerakan memintal benang, mengatur benang dan ketrampilan tangan dan jari pada kegiatan menenun. Tari Tenun diciptakan oleh I Nyoman Ridet dan I Wayan Likes tahun 1957.
15.1.11. Belibis
Tari kreasi baru ini menggambarkan kehidupan sekelompok burung belibis yang dengan riangnya menikmati keindahan alam.
Mereka tiba-tiba dikejutkan oleh munculnya seekor burung belibis jadi-jadian yang merupakan penjelmaan dari Prabu Angling Dharma setelah terkena kutukan dari istrinya yang sakti (dalam cerita Tantri).
Dibawakan oleh 7 orang penari wanita, tari belibis diciptakan pada tahun 1984 oleh N.L.N. Swasthi Wijaya Bandem (koreografer) dan I Nyoman Windha (komposer).
15.1.12. Gabor
Tari ini sejenis Pendet, namun perbendaharaan geraknya lebih banyak, diambil dari gerak-gerak tari upacara seperti Rejang.
Tari ini diciptakan oleh I Gusti Raka (dari Saba) seorang dosen ASTI Denpasar pada tahun 1969. Tarian yang sejenis kemudian digubah oleh I Wayan Beratha guru SMKI Denpasar pada tahun 1970. Pada tahun 1972 I Wayan Beratha menciptakan tarian yang sejenis yang dinamakan tari Panyembrama
15.1.13. Sekarjagat
Tarian ini merupakan garapan kelompok yang ditarikan sejumlah penari putri (biasanya antara 5 sampai 7 orang) yang masing-masing membawa canangsari.
Tarian penyambutan ini menggambarkan kegembiraan para penari dalam menyambut para tamu yang hadir. Kegembiraan ini diungkapkan melalui keindahan gerak. Tarian ini diciptakan oleh N.L.N. Swasthi Wijaya Bandem (yang juga sebagai penata busananya) pada tahun 1993 dalam rangka pembukaan Pameran Wastra Bali di Jakarta. Penata iringannya adalah I Nyoman Windha. Tarian ini diilhami oleh tarian upacara, Rejang dan Pendet dari daerah Asak (Karangasem).
15.1.14. Puspawresti
Tari yang memadukan pola-pola gerak beberapa tarian upacara seperti Gabor, Rejang dan Baris Gede ini merupakan tari penyambutan (puspa=: bunga, wresthi=: hujan) yang ditarikan oleh sekelompok penari pria dan wanita. Para penari wanita membawa bokor berisikan bunga yang berwarna-warni yang dikawal oleh penari pria yang membawa tombak.
Tarian ini menggambarkan sekelompok muda-mudi yang dengan penuh rasa hormat dan ramah tamah menyambut kedatangan para tamu yang berkunjung ke desa mereka. Tarian ini merupakan ciptaan bersama dari I Wayan Dibia (penata tari) dengan I Nyoman Windha (penata karawitan) pada tahun 1981.
15.1.15. Angkeran
Angkeran adalah sebuah tari kreasi baru kelompok yang menggambarkan seorang penjudi kelas berat bernama Manik Angkeran putra Empu Sidhi Mantra, rohaniwan yang saleh. Beliau sudah pasrah menghadapi kelakuan anaknya yang pada suatu saat datang ke Pura Besakih menghadap Sang Hyang Naga Besukih. Tergiur oleh perhiasan mas dan permata di sekujur tubuh Hyang Naga Besukih, Manik Angkeran serta merta memotong ekor sang naga, Sang Naga Besukih menjadi murka dengan semburan apinya kemudian membunuh Manik Angkeran menjadi abu.
Garapan ini dipentaskan dalam festival tari daerah di Taman Mini Indonesia Indah pada tahun 1998. Tari kreasi yang ditata oleh Ida Ayu Wimba Ruspawati (koreografer) dengan I Nyoman Widha sebagai komposer.
15.1.16. Trunajaya
Tari ini adalah tarian yang berasal dari daerah Bali Utara (Buleleng) yang melukiskan gerak-gerak seorang pemuda yang menginjak dewasa, sangat emosional, tingkah serta ulahnya senantiasa untuk menarik/ memikat hati wanita.
Tari Trunajaya termasuk tari putra keras yang biasanya ditarikan oleh penari putri. Tari ini semula ciptaan Pan Wandres dalam bentuk kebyar Legong dan kemudian disempurnakan oleh I Gde Manik.
15.1.17. Kupukupu
Tari Kupu-kupu melukiskan ketentraman dan kedamaian hidup sekelompok kupu-kupu yang dengan riangnya berpindah dari satu dahan ke dahan yang lain.Tarian ini merupakan tarian putri masal yang diciptakan oleh I Wayan Beratha pada tahun 1960-an.
15.1.18. Wirayudha
Tarian yang menggambarkan kepahlawanan ini dikembangkan dari beberapa jenis tari Baris Gede (tari Baris upacara) terutama sekali Baris Tumbak atau Baris Katekok Jago.
Ditarikan oleh antara 2 sampai 4 pasang penari pria bersenjatakan tombak, tari ini menggambarkan sekelompok prajurit Bali Dwipa yang sedang bersiap-siap untuk maju ke medan perang. Memakai hiasan kepala berbentuk udeng-udengan, tarian yang merupakan produksi Sanggar Tari Bali Waturenggong ini adalah ciptaan I Wayan Dibia pada tahun 1979.
15.1.19. Manukrawa
Tarian yang dibawakan oleh sekelompok (antara 5 sampai 7 orang ) penari wanita ini merupakan tarian kreasi baru yang menggambarkan perilaku sekelompok burung (manuk) air (rawa) sebagaimana yang dikisahkan didalam cerita Wana Parwa dari Epos Mahabharata.
Gerakan tarinya diambil dari tari klasik Bali yang dipadukan dengan gerakan tari dari Jawa dan Sunda, yang telah dimodifikasikan sesuai dengan tuntutan keindahan.
Tarian ini diciptakan pada tahun 1981 oleh I Wayan Dibia (koreografer), dan I Wayan Beratha (komposer). Sebelum menjadi sebuah tari lepas, tari Manukrawa merupakan bagian dari sendratari Mahabharata "Bale Gala-Gala" karya tim sendratari Ramayana/ Mahabharata Propinsi Bali yang ditampilkan dalam Pesta Kesenian Bali tahun 1980.
15.1.20. Sekar Ibing
Semula tarian yang mengambarkan kehidupan yang penuh keakraban dan suka ria ini lahir sebagai tari ibing-ibingan. tarian yang ditarikan oleh 10 orang penari (5 pria dan 5 wanita) diihami oleh tari joged. Ngibing adalah tarian bebas dalam tari Joged Bumbung (tari pergaulan) yang dilakukan bersama-sama penari joged.
Tarian ini merupakan ciptaan bersama antara I Nyoman Suarsa (penata tari) dan I Ketut Gede Asnawa (penata iringan) yang mendapat kepercayaan dari pemerintah Kabupaten Badung untuk menciptakan sebuah tarian baru yang ditampilkan dalam Festival Gong Kebyar se Bali pada tahun 1983. Perubahan nama ke Sekar Ibing terjadi ketika tarian ini dikembangkan di SMKI Denpasar, setelah tarian ini mendapat sambutan yang cukup baik dari penonton.
15.1.21. Makepung
Makepung adalah istilah dalam bahasa Bali yang artinya lomba balap kerbau, sebuah tradisi kaum petani yang kini masih tetap hidup di daerah Jembrana.
Ditarikan oleh 7 sampai 9 orang penari putra-putri, tarian ini menampilkan gerakan para penunggang kerbau dan gerak-gerak kerbau itu sendiri. Salah satu keunikan dari pada tarian kreasi baru ini adalah iringannya yang mengambil gamelan Jegog.
Tari kreasi Makepung adalah sebuah garapan baru yang menggambarkan jalannya persiapan dan lomba kerbau makepung. Tarian ini diciptakan pada tahun 1984, oleh I Ketut Suwentra. Karya ini pertama kali ditampilkan sebagai garapan sarjana muda di ASTI Denpasar.
15.1.22. Yudhapati
Wanita tidak ingin ketinggalan di dalam melakukan tugas bela negara. Untuk menyiapkan diri akan tugas ini sekelompok Srikandhi patriot bangsa melakukan latihan beladiri dan perang-perangan. Tarian ini merupakan tari kepahlawanan yang menggambarkan sekelompok prajurit wanita yang senantiasa bersiaga untuk menjaga keamanan negara.
Di balik paras mereka yang cantik menawan terselip rasa patriotisme yang tinggi. Dengan bersenjatakan kipas yang di dalamnya terselip sebilah keris, para Srikandhi ini bergerak dengan gesit dan lincahnya. Tarian ini diciptakan oleh I Wayan Dibia untuk Sekaa Gong Patra Kencana desa Singapadu, Kabupaten Gianyar pada tahun 1986.
15.1.23. Jaran Teji
Tarian ini merupakan garapan kelompok, ditarikan oleh 5-7 orang penari putri. Semua penari mengenakan busana laki-laki, memakai hiasan kepala berupa destar (udeng-udengan) dan masing-masing membawa sebuah perisai.
Tarian yang memadukan gerak-gerak tari putra dan putri dalam tari Bali, melukiskan penyamaran Dewi Sekartaji, yang diiringi para embannya tatkala mengembara mencari jejak kekasihnya, Raden Panji Inu Kertha Pati, yang hilang dari istananya. Sang Dewi dengan para embannya menyamar sebagai penunggang kuda yang gagah perkasa tanpa ada orang yang mengenalinya.
Inspirasi tarian ini adalah Sanghyang Jaran, sebuah tarian kerauhan yang disakralkan. Gerak- gerak Sanghyang Jaran kemudian dipadukan dengan gerak-gerak tari klasik Bali dan tari Jawa. Tarian ini adalah karya I Wayan Dibia pada tahun 1985.
15.1.24. Prembon
Prembon (per-imbuh-an) adalah dramatari campuran dari berbagai unsur dramatari klasik Bali yang ada. Sesungguhnya setiap dramatari yang diciptakan dengan cara menggabungkan berbagai unsur-unsur tari Bali yang telah ada dapat disebut sebagai Prembon.
(Puputan Badung). Tari kreasi Bebarisan ini diciptakan pada tahun 1979 oleh I Nyoman Catra (Prembon muncul pada zaman revolusi, tepatnya tahun 1942, atas prakarsa para seniman dari Badung: I Nyoman Kaler dan dari Gianyar: I Wayan Griya dan I Made Kredek.
Ketika pertama kali diciptakan Prembon lahir dari penggabungan seni Patopengan dan Paarjaan. Lakon yang ditampilkan pada umunnya bersumber dari cerita Babad dan semi sejarah lainnya sebagaimana halnya dramatari Topeng sedangkan gamelan pengiringnya adalah Gamelan Gong Kebyar. Di daerah Gianyar, Prembon yang banyak memasukan unsur-unsur Arja dan Gambuh biasa disebut Tetanrian.
15.1.25. Puspanjali
Puspanjali (puspa= bunga, anjali= menghormat) merupakan sebuah tarian penyambutan yang ditarikan oleh sekelompok penari putri (biasanya antara 5-7 orang ).
Menampilkan gerak-gerak lembut lemah gemulai yang dipadukan dengan gerak-gerak ritmis yang dinamis, tarian ini banyak mengambil inspirasi dari tarian-tarian upacara Rejang, dan menggambarkan sejumlah wanita yang dengan penuh rasa hormat menyongsong kedatangan para tamu yang datang ke pulau mereka.
Tari ini diciptakan oleh N.L.N. Swasthi Wijaya (penata tari) dan I Nyoman Windha (penata tabuh pengiring) pada tahun 1989.
15.1.26. Magoak-goakan
Tarian ini diambil dari permainan tradisional dari Bali Utara. Permainan ini konon sangat digemari oleh Ki Panji Sakti, Raja Buleleng yang dikenal sebagai seorang kesatria yang gagah perkasa.Kreasi Tari Magoak-goakan pertama kali muncul tahun 1985, merupakan ciptaan I Dewa Supartha Dharma asal Bangli.
Tari Magoak-goakan dengan versi yang lain kemudian muncul pada tahun yang sama yang ditampilkan oleh Pemerintah Daerah Bali ke Festival Tari Daerah Tingkat Nasional di Jakarta.Maaf, photo belum disertakan.
15.1.27. Kebyar Duduk
Tari ini merupakan ciptaan I Mario dari Tabanan yang menciptakan tarian ini pada tahun 1925. Tari ini disebut Kebyar Duduk oleh karena sebagian besar gerak-gerakan tarinya dilakukan dalam posisi duduk dengan kedua kaki menyilang (bersila).
Tari Kebyar Duduk menggambarkan kemahiran seorang pemuda yang menari dengan lincahnya dengan posisi duduk mengikuti irama gamelan. Apabila tarian ini ditarikan dengan memainkan instrumen trompong, maka tarian Kebyar Duduk disebut tari Kebyar Trompong.
15.1.28. Panji Semirang
Panji Semirang adalah sebuah nama dari Galuh Candrakirana yang sedang menyamar untuk mencari Raden Panji. Tarian ini menggambarkan pengembaraan Galuh Candrakirana yang menyamar sebagai seorang lelaki untuk mencari kekasihnya Raden Panji Inu Kertapati. Tari ini termasuk tari putra halus biasanya ditarikan oleh penari putri. Tari Panji Semirang adalah ciptaan I Nyoman Kaler pada tahun 1942.
15.1.29. Oleg Tambulilingan
Oleg dapat berarti gerakan yang lemah gemulai, sedangkan tambulilingan berarti kumbang pengisap madu bunga. Tari Oleg Tambulilingan melukiskan gerak-gerik seekor kumbang, yang sedang bermain-main dan bermesra-mesraan dengan sekuntum bunga di sebuah taman. Tarian ini sangat indah.
Tari Oleg Tambulilingan, yang semula dinamakan Tambulilingan Mangisep Sari, merupakan ciptaan I Ketut Mario dari Tabanan pada tahun 1952 atas permintaan John Coast (dari Amerika).
15.1.30. Baris Papotetan
Potet adalah nama sekelompok karakter para pengiring Patih Prabangsa, dalam dramatari Gambuh. Dengan gerak lugas yang dijalin dengan gerak bernada humor, tarian ini menggambarkan Patih Prabangsa yang tengah melatih pasukan perangnya yang lemas dan loyo. Selama berlatih para prajurit melakukan dan melaksanakan perintah sang patih secara bergurau dan main-main yang membuat Patih Prabangsa menjadi marah. Sang Patih akhirnya berhasil pula membangkitkan semangat para prajurit itu untuk kemudian diperintahkan untuk maju ke medan laga.
15.1.31. Cendrawasih
Kisah yang digambarkan di dalam tarian adalah kehidupan burung Cendrawasih di pegunungan Irian Jaya pada masa birahi.
Tari duet yang ditarikan oleh penari putri, kendatipun dasar pijakannya adalah gerak tari tradisi Bali, beberapa pose dan gerakannya dari tarian ini telah dikembangkan sesuai dengan interpretasi penata dalam menemukan bentuk - bentuk baru sesuai dengan tema tarian ini. Busana ditata sedemikian rupa agar dapat memperkuat dan memperjelas desain gerak yang diciptakan.
Tarian ini di ciptakan oleh N.L.N. Swasthi Wijaya Bandem (yang juga sebagai penata busana dari pada tarian ini) dalam rangka mengikuti Festival Yayasan Walter Spies. penata tabuh pengiring adalah I Wayan Beratha dan I Nyoman Widha pada tahun 1988.
15.1.32. Senapati Abimanyu
Tari Senapati Abimanyu ini merupakan tarian baru yang berpolakan pada struktur koreografi dan prinsip-prinsip keindahan tari Legong (tarian klasik Bali). Kisah yang digambarkan adalah pertempuran sengit antara satria muda pandawa yang bernama Raden Abimanyu melawan pasukan Korawa.
Di dalam peperangan Abimanyu tewas setelah ia gagal melepaskan diri dari formasi perang "cakra" yang digelar oleh Korawa.
Tarian ini diciptakan oleh I Wayan Dibia pada tahun 1982 sebagai satu nomor tari kreasi baru yang ditampilkan oleh Sekaa Gong Kebyar Kabupaten Gianyar ke Festival Gong Kebyar se Bali waktu itu.
15.1.33. Dharma Putri
Tarian ini melukiskan kehidupan ibu-ibu atau wanita Bali di zaman modern ini. Menampilkan gerak-gerak yang bersumber pada tokoh-tokoh putri dalam dramatari Gambuh, tari Dharma Putri dibawakan oleh sekelompok penari wanita berbusana upacara tradisional Bali (papradaan).
Tarian ini merupakan karya bersama dari guru-guru SMKI-Bali : Ni Ketut Arini Alit dan Gusti Agung Susilawati (sebagai penata tari) dan I Wayan Sinti (penata iringan).
15.1.34. Ciwa Nataraja
Siwa Nataraja adalah manifestasi Siwa sebagai penari tertinggi, sebagai dewanya penari. Siwa terus menari sehingga menimbulkan ritme dan keteraturan di dalam alam semesta. Gerakan Siwa merupakan pancaran tenaga prima yang kemudian menyatu sehingga terciptalah alam semesta ini.
Tari Siwa Nataraja yang telah dijadikan tari kebesaran STSI Denpasar ini ditarikan oleh sembilan orang penari putri : satu orang berperan sebagai Siwa, sedangkan delapan orang lainnya menggambarkan pancaran tenaga-tenaga prima dari Siwa.
Tarian ini merupakan perpaduan antara tari Bali dengan beberapa elemen tari Bharata Natyam (India) yang telah dimodifikasi sehingga terwujudlah suatu bentuk tari yang utuh.
Tarian ini diciptakan pada tahun 1990 oleh N.L.N. Swasthi Wijaya Bandem yang juga sebagai penata kostumnya dengan penata iringan adalah I Nyoman Widha. terdiri dari tiga bagian : Gilak, Bapang, Gilak,
15.1.35. Garuda Wisnu
Garuda Wisnu adalah sebuah tari garapan baru yang menggambarkan perjalanan Dewa Wisnu, dewa kesuburan, untuk mencari tirta amerta. Dalam usaha mendapat tirta ini Dewa Wisnu dibantu oleh burung Garuda. Dalam tarian ini juga dilukiskan pertemuan Dewa Wisnu dengan saktinya, Dewi Laksmi, dan kegagahan Hyang Wisnu dalam memainkan senjata cakranya. Dibawakan oleh 3 penari putra (sebagai burung Garuda) dan 2 penari putri (sebagai Dewi Laksmi dan Dewi Wisnu).
Ditampilkan pertama-kali dalam Peksiminas 1997 di Bandung dan PKB XX 1998 di Bali. Tari ini ditata oleh I Nyoman Cerita (koreografer) dan I Gde Arya Sugiartha (komposer).
15.1.36. Bandana Manggala Yudha
Tarian ini merupakan sebuah tarian kepahlawanan yang bertolak dari tari klasik Bali (Bebarisan). Ditarikan 4 sampai 6 oarang penari pria, setiap orang yang mengenakan seragam dari Bebarisan, tarian ini sering juga disebut tari Baris Masal.
Tarian ini melukiskan persiapan sekelompok pasukan perang dari kerajaan Badung (Bandana) sebelum maju ke medan perang koreografer) dan I Nyoman Astita (komposer).
15.1.37. Satya Brastha
Tarian ini adalah sebuah tarian kepahlawanan yang melukiskan para satria darah Barata yang rela mengorbankan jiwa raganya di medan perang (Satya= setia, brastha= gugur). Kisah yang dibawakan adalah pertempuran antara Adipati Karna melawan Raden Gatutkaca di Tegal Kuru Ksetra dalam perang Bharata Yudha. Dalam pertempuran ini Gatutkaca gugur terkena senjata Konta yang dilepaskan oleh Karna.
Gerakan tarinya masih berpijak pada tari klasik Bali (Bebarisan). Keunikan tarian ini terlihat pada pengolahan propertinya (payung dan kipas) yang dimainkan sedemikian rupa untuk membuat citra-citra dari gada, tombak, kereta kuda dan awan. Tarian kelompok yang didukung oleh 6 sampai 8 penari pria ini, adalah ciptaan I Nyoman Cerita (koreografer) dengan tabuhan iringan yang ditata oleh I Nyoman Pasek.

15.2. Sendratari
Di samping tari-tarian lepas, sejak sekitar tahun 1960 para pencipta tari di Bali juga telah menghasilkan sejumlah Seni Drama Tari (Sendratari). Sendratari pada hakekatnya adalah hasil kreativitas para seniman modern melalui pengolahan kembali elemen-elemen seni dan bentuk-bentuk kebudayaan yang sudah ada. Sebagaimana halnya di Jawa di mana sendratari dibentuk oleh unsur-unsur Wayang Wong dan Wayang Kulit, di Bali sendratari di bentuk dengan memadukan unsur-unsur Pewayangan, Pegambuhan, Pelegongan dan Kekebyaran. Tari – tarian yang termasuk dalam sendratari antara lain :

15.2.1. Jayaprana
Karya tari berlakon, tanpa dialog yang pertama diciptakan di Bali oleh I Wayan Beratha pada tahun 1961. Mengisahkan sebuah legenda dari Buleleng yang terkenal, Jayaprana - Layonsari.
Dua anak desa, I Nyoman Jayaprana (abdi kesayangan Raja Kalianget) bertemu dengan Ni Nyoman Layonsari (putri Jero Bandesa Banjar Sekar). Sejak pertemuan mereka di suatu pasar, Jayaprana dan Layonsari saling jatuh cinta yang akhirnya bersepakat untuk kawin. Perkawinan ini tidak bertahan lama karena Raja Kalianget tergila-gila pada kecantikan Ni Layonsari. Dengan menggunakan segala tipu muslihat untuk memisahkan pasangan baru ini. I Jayaprana di utus ke Teluk Terima bersama Patih Sawunggaling yang kemudian menikamnya di sebuah hutan sehingga tewas. Dengan berpura-pura meratapi kematian abdi kesayangannya, sambil menawarkan belas kasihan, Prabu Kalianget merayu Ni Layonsari agar mau dibawa ke puri. Permintaan ini ditolak mentah-mentah oleh Ni Layonsari yang telah mengetahui suaminya telah dibunuh oleh suruhan sang raja. Tak sudi menerima perlakuan seperti itu sang raja merasa berang, lalu memaksa Ni Layonsari. Ketika terjadi pergumulan dengan sang raja, Ni Layonsari menarik keris sang raja untuk menikam dirinya sendiri. Melihat hal ini sang raja menjadi kalap lalu membunuh setiap orang yang mendekat padanya. Kisah ini berakhir secara tragis dengan tewasnya raja Kalianget di tangan rakyatnya sendiri.
15.2.2. Rajapala
Sendratari ini juga merupakan karya dari I Wayan Beratha dari tahun 1970, menggambarkan kisah Rajapal, Ken Sulasih dan I Durma, anak mereka.
Rajapala bertemu dengan Bidadari Ken Sulasih yang kemudian berlanjut dengan perkawinan. Dari perkawinan ini lahir seorang anak (I Durma), maka Ken Sulasih kembali ke kahyangan meninggalkan I Rajapala dan I Durma. Karena tidak tahan ditinggal Ken Sulasih, maka I Rajapala pergi ke hutan untuk bertapa dan meninggalkan I Durma seorang diri.
I Durma dewasa menghamba di Istana Singa-panjoran. Pada suatu ketika I Durma mohon diri untuk mencari ayahnya. Ketika itu datanglah seorang utusan yang melaporkan bahwa rakyat di tepi hutan diganggu oleh raksasi Durgadening. I Durma dititahkan untuk membunuh raksasi itu. setelah berhasil membunuh raksasi itu I Durma bertemu dengan ayahnya yang sudah tua.
15.2.3. Sampek Ingtai
Adalah sebuah drama percintaan yang diangkat dari cerita Cina. Di Bali cerita ini merupakan lakon yang sangat populer dalam dramatari Arja dan Drama Gong.
Digambarkan dua sejoli yang bernama Sampik dan Ingtai berjumpa di kota Anciu (di suatu sekolah khusus untuk laki-laki). Untuk masuk ke sekolah ini Ingtai harus menyamar sebagai laki-laki. Setelah beberapa tahun sampik dan Ingtai berteman dekat, akhirnya Ingtai memberi tahukan bahwa ia adalah seorang wanita. Tentu saja hal ini membuat Sampik jatuh cinta. Keduanya kemudian berjanji untuk hidup berdua sebagai suami istri dan tetap bersama sehidup semati.
Pada masa berakhirnya sekolah mereka, keduanya harus berpisah, pulang ke daerahnya masing-masing. Sebelum keduanya berpisah, Ingtai memberikan teka-teki, agar dipecahkan sebelum saat Sampik datang meminang dirinya. Sayang sekali Sampik tidak segera dapat menjawabnya, sehingga ia datang terlambat. Ingtai sudah dijodohkan dengan pemuda kaya raya bernama Macun. Tidak tahan menahan malu dan kecewa, Sampik jatuh sakit dan akhirnya menemui ajalnya. Kematian Sampik membuat Ingtai sedih dan kehilangan. Karena janji setia yang mereka ucapkan.
Dalam perjalanan menuju ke rumah Macun, Ingtai meminta ijin untuk bersembahyang di kubur Sampik, yang diakuinya sebagai seorang temannya. Belum lama Ingtai bersembahyang, tiba-tiba kuburan Sampik terbuka. Ingtai kemudian melompat ke dalamnya. Sampik dan Ingtai akhirnya bersatu di alam keabadian.
Sendratari yang melibatkan tidak lebih 15 orang penari ini, dengan tokoh utama Sampik, Ingtai dan Macun serta diiringi dengan gamelan Gong Kebyar, adalah garapan ASTI Denpasar dengan penata tari dan tabuhnya I Wayan Dibia pada tahun 1977. Seluruh koreografi dan tabuh iringannya digarap di Medan sedangkan pementasan perdananya dilakukan di Singapura.
Gong Kebyar adalah sebuah barungan baru. Sesuai dengan nama yang diberikan kepada barungan ini (Kebyar yang bermakna cepat, tiba-tiba dan keras) gamelan ini menghasilkan musik-musik keras dan dinamis. Gamelan ini dipakai untuk mengiringi tari-tarian atau memainkan tabuh-tabuhan instrumental. Secara fisik Gong Kebyar adalah pengembangan kemudian dari Gong Gede dengan pengurangan peranan, atau pengurangan beberapa buah instrumennya. Misalnya saja peranan trompong dalam Gong Gebyar dikurangi, bahkan pada tabuh-tabuh tertentu tidak dipakai sama sekali, gangsa jongkoknya yang berbilah 5 dirubah menjadi gangsa gantung berbilah 9 atau 10 . cengceng kopyak yang terdiri dari 4 sampai 6 pasang dirubah menjadi 1 atau 2 set cengceng kecil. Kendang yang semula dimainkan dengan memakai panggul diganti dengan pukulan tangan.
Secara konsep Gong Kebyar adalah perpaduan antara Gender Wayang, Gong Gede dan Pelegongan. Rasa-rasa musikal maupun pola pukulan instrumen Gong Kebyar ada kalanya terasa Gender Wayang yang lincah, Gong Gedeyang kokoh atau Pelegonganyang melodis. Pola Gagineman Gender Wayang, pola Gegambangan dan pukulan Kaklenyongan Gong Gede muncul dalam berbagai tabuh Gong Kebyar. Gamelan Gong Kebyar adalah produk kebudayaan Bali modern. Barungan ini diperkirakan muncul di Singaraja pada tahun 1915 (McPhee, 1966 : 328). Desa yang sebut-sebut sebagai asal pemunculan Gong Kebyar adalah Jagaraga (Buleleng) yang juga memulai tradisi Tari Kebyar. Ada juga informasi lain yang menyebutkan bahwa Gong Kebyar muncul pertama kali di desa Bungkulan (Buleleng). Perkembangan Gong Kebyar mencapai salah satu puncaknya pada tahun 1925 dengan datangnya seorang penari Jauk yang bernama I Mario dari Tabanan yang menciptakan sebuah tari Kebyar Duduk atau Kebyar Trompong.
Gong Kebyar berlaras pelog lima nada dan kebanyakan instrumennya memiliki 10 sampai 12 nada, karena konstruksi instrumennya yang lebih ringan jika dibandingkandengan Gong Gede. Tabuh-tabuh Gong Kebyar lebih lincah dengan komposisi yang lebih bebas, hanya pada bagian-bagian tertentu saja hukum-hukum tabuh klasik masih dipergunakan, seperti Tabuh Pisan, Tabuh Dua, Tabuh Telu dan sebagainya.
Lagu-lagunya seringkali merupakan penggarapan kembali terhadap bentuk-bentuk (repertoire) tabuh klasik dengan merubah komposisinya, melodi, tempo dan ornamentasi melodi. Matra tidak lagi selamanya ajeg, pola ritme ganjil muncul di beberapa bagian komposisi tabuh.
Barungan Gong Kebyar bisa diklasifikasikan menjadi 3 :
1. Utama = Yang besar dan lengkap
2. Madya = Yang semi lengkap
3. Nista = Yang sederhana
15.2.4. Arya Bebed
Adalah sebuah sendratari yang melakonkan cerita Babad yang pernah populer di Bali, Arya Bebed
Sendratari Arya Bebed mengisahkan pertemuan Mahapatih Gajah Mada dengan Ni Luh Sekarini di desa Kedangan ketika mengadakan ekspedisi di Bali. Pertemuan ini berakhir dengan perkawinan dan membuahkan seorang anak bernama I Jamong. Karena pertemuan sang Mahapatih dengan putranya, beberapa tahun kemudian di Majapahit, dengan perantaraan kain pengikat pinggang-bebed, maka I Jamong diakui sebagai putra sang Mahapatih dengan nama Arya Jamong
Sendratari ini adalah sebuah karya I Wayan Dibia pada tahun 1982. Sendratari ini diciptakan untuk kerabat kerja Gong Kebyar duta Kabupaten Gianyar pada Festival Gong Kebyar se Bali.
15.2.5. Kebo Iwa
Sendratari Kebo Iwa mengisahkan gugurnya patih andalan raja Bali oleh Mahapatih Majapahit, Gajah Mada.
Atas undangan sang Mahapatih (yang menjanjikan jodoh yang cocok untuk Kebo Iwa), patih andalan Bali yang juga bergelar Kebo Wanira, berangkat ke Majapahit. Ketika Kebo Iwa tengah menggali sumur besar atas permintaan istrinya (boneka buatan Gajah Mada), pasukan Majapahit melemparinya dan menimbun sumur dengan batu. Di sinilah Kebo Iwa sadar bahwa kehadirannya di Majapahit memang untuk dibunuh.
Di hadapan Gajah Mada ia berkata bahwa ia rela mati bukan karena kalah melawan Gajah Mada melainkan demi persatuan nusantara.
Sendratari ini adalah ciptaan I Nyoman Cerita pada tahun 1987. Sendratari ini diciptakan untuk Kabupaten Gianyar pada Pekan Kesenian Bali ke 8.

15.2.6. Sendratari Ramayana
Ada dua jenis sendratari Ramayana, kecil dan besar, yang pernah ada di Bali. Sendratari Ramayana kecil biasa disebut Ramayana Ballet mempunyai durasi pentas sekitar satu jam dan dimainkan oleh antara 11-20 orang penari. Kisah yang dibawakan merupakan cuplikan dari bagian-bagian cerita Ramayana yang tersebar didalam 7 kanda, dimulai dari diculiknya Dewi Sita oleh Prabu Dasamuka dan berakhir dengan gugurnya raja Alangka ini.
Sendratari Ramayana besar yang biasa disebut sebagai sendratari Ramayana kolosal adalah yang berdurasi sekitar 2-3 jam dengan pendukung yang berjumlah ratusan orang dengan melibatkan sedikitnya 2 barung gamelan. Sendratari ini biasanya difokuskan pada satu dari ke tujuh kanda yang ada dalam kisah Ramayana.
15.2.6.1 Ramayana Kecil
Sendratari ini adalah karya I Wayan Beratha yang diciptakan pada tahun 1965. Sendratari ini banyak memakai busana pewayangan Bali dengan pengolahan pada beberapa bagiannya. Cerita yang diambil dalam sendratari Ramayana ini biasanya bermula dari pengembaraan Rama, Sita dan Laksmana ditengah hutan Dandaka, munculnya Kijang Emas, dilarikannya Sita oleh Rahwana, perang Rahwana dengan Jatayu, Hanoman menghadap Rama, Hanoman diutus ke Alengka dan berakhir dengan kembalinya Dewi Sita kepada Rama. Selain diiringi dengan Gong Kebyar sendratari ini juga dilengkapi dengan gerongan dan tandak oleh dalang.
15.2.6.2 Ramayana Kolosal
Adalah cerita ringkas dari ketujuh bagian atau kanda yang pernah disendratarikan selama tahun-tahun awal dari Pesta Kesenian Bali (antara tahun 1979 sampai sekarang). Semua Kanda yang telah digarap itu adalah : Bala Kanda, Ayodya Kanda, Arania Kanda, Kiskenda Kanda, Sundara Kanda, Yudha Kanda dan Uttara Kanda.
15.2.7. Mahabarata
Cerita Mahabharata juga merupakan sumber lakon sendratari yang banyak digarap oleh para seniman tari di Bali. Sejak pertengahan tahun 1970, sejumlah seniman, baik perorangan maupun berkelompok, telah menggarap bagian-bagian dari cerita ke dalam sendratari ini. Selain itu, Tim Sendratari Ramayana dan Mahabharata Propinsi Bali juga telah mempagelarkan ke delapan belas bagian atau parwa dalam epos Mahabharata. Berdasarkan jumlah penarinya, sendratari Mahabharata juga dapat dibedakan menjadi sendratari Mahabharata kecil dan sendratari besar atau kolosal.
15.2.7.1. Mahabrata Kecil
Sendratari ini adalah karya I Wayan Beratha yang diciptakan pada tahun 1965. Sendratari ini banyak memakai busana pewayangan Bali dengan pengolahan pada beberapa bagiannya. Cerita yang diambil dalam sendratari Ramayana ini biasanya bermula dari pengembaraan Rama, Sita dan Laksmana ditengah hutan Dandaka, munculnya Kijang Emas, dilarikannya Sita oleh Rahwana, perang Rahwana dengan Jatayu, Hanoman menghadap Rama, Hanoman diutus ke Alengka dan berakhir dengan kembalinya Dewi Sita kepada Rama. Selain diiringi dengan Gong Kebyar sendratari ini juga dilengkapi dengan gerongan dan tandak oleh dalang.
15.2.7.2 Narakesuma
Adalah cerita ringkas dari ketujuh bagian atau kanda yang pernah disendratarikan selama tahun-tahun awal dari Pesta Kesenian Bali (antara tahun 1979 sampai sekarang). Semua Kanda yang telah digarap itu adalah : Bala Kanda, Ayodya Kanda, Arania Kanda, Kiskenda Kanda, Sundara Kanda, Yudha Kanda dan Uttara Kanda.
Di samping itu, telah pula digarap beberapa cerita carangan seperti Arjuna Sasrabahu, Anggada Duta dan lain-lain.
15.2.7.3 Mahabarata Kolosal
Sejak tahun 1981 ada sejumlah sendratari Mahabharata Kolosal yang telah ditampilkan pada Pesta Kesenian Bali selama ini. Di antara bagian-bagian cerita yang dipagelarkan pada tahun-tahun awal Pesta Kesenian Bali adalah:
1. Arjuna Wiwaha 11. Bale Gala-Gala
2. Sayembara Drupadi 12. Gugurnya Duryudhana
3. Sayembara Dewi Amba 13. Gugurnya Abhimanyu
4. Pandawa Korawa Aguru 14. Gugurnya Gatutkaca
5. Dewa Ruci 15. Gugurnya Karna
6. Eka Lawya 16. Gugurnya Salya
7. Kresna Duta 17. Gugurnya Kresna
8. Kangsa Lima 18. Gugurnya Kicaka
9. Sakuntala 19. Pendawa Kesorga
10. Parikesit 20. Prabu Nala

16. TARI KONTEMPORER
Salah satu garapan tari yang mengawali munculnya tari Kontemporer Bali modern adalah Cak Tarian Rina, karya Sardono W. Kusumo di Banjar Teges Kanginan Gianyar pada tahun 1972. Ketika itu Sardono dan sejumlah seniman muda dari Taman Ismail Marzuki Jakarta memasukkan ide-ide gerak dan cerita baru (Subali- Sugriwa) ke dalam Cak ini. Lampu-lampu cak yang berbentuk piramid diganti dengan obor-obor yang dapat dibawa bergerak oleh para pemain, sementara pola kakilitan cak masih tetap dipertahankan. Di dalam beberapa bagian dari adegan Cak Rina ini muncul anak-anak menari, sebagian ada yang telanjang yang kemudian menjadikan pagelaran ini sebuah kontroversi dan karya ini nyaris ditolak oleh para pengamat seni di Bali.
Dua tahun kemudian Sardono menggarap Calonarang di desa Krambitan (Tabanan Bali) yang melahirkan Dongeng dari Dirah. Berbeda dengan tarian Cak Rina, Dongeng dari Dirah berhasil menarik perhatian masyarakat setempat dan memperoleh kesuksesan besar di Paris. Dengan suksesnya ini, kemarahan masyarakat Bali terhadap Sardono atas Cak Rina-nya nampak agak mengendor dan diam-diam beberapa pengamat seni di daerah ini mulai mengagumi karya seniman kelahiran Surakarta ini.
16.1. Cak Subali Sugriwa
Cak Subali-Sugriwa adalah sebuah garapan baru yang melakonkan pertempuran Subali dan Sugriwa. Adapun lakon yang dibawakan berjudul Kuntir yang mengisahkan perselisihan antara Subali dan Sugriwa. Kisah ini diawali dengan kedatangan Hyang Indra ke tempat Subali dan Sugriwa bersemedi. Hyang Indra meminta kedua putra Resi Gotama ini untuk membunuh Raksasa Lembu Sura dan Mahisa Sura. Jika mereka berhasil, beliau akan memberikan hadiah seorang putri cantik bernama Dewi Tara. Demi ketentraman Khayangan, Subali dan Sugriwa menyatakan kesanggupannya. Ketika Subali masuk istana goa untuk menyerang kedua raksasa ini, ia meminta Sugriwa menutup goa dengan sebuah batu besar, agar kedua raksasa itu tidak melarikan diri. Namun ketika cairan merah dan putihpun keluar dari dalam goa yang ditafsirkan oleh Sugriwa bahwa kakaknya sudah mati terbunuh.
Kisah selanjutnya dari lakon Kuntir ini adalah sama dengan yang terjadi dalam cerita Kiskenda Kanda. Sementara teknik kakilitan suara "cak - cak - cak" masih dipergunakan di dalam cak modern ini, formasi lingkaran berlapis-lapis mengelilingi lampu, seperti yang dilakukan kepada cak "tradisional", ditiadakan atau dikurangi. Para penari cak disebarkan di sekitar stage untuk membuat berbagai macam konfigurasi seperti gunung, batu-batuan tempat bertapanya Subali dan Sugriwa, goa, pepohonan, dan lain-lainnya sesuai dengan kebutuhan dekorasi cerita. Perubahan mendasar yang terjadi dalam cak ini adalah dalam hal gerak. Dalam cak ini semua penari bergerak secara aktif, secara berkelompok maupun perorangan. Ada bagian-bagian koreografi di mana penari berguling-guling di lantai atau berlari berhamburan sambil mengeluarkan suara menjerit atau ketawa-ketawa kecil secara tidak beraturan. Kadang kala ada gerak yang dilakukan secara cepat, dan ada juga secara lambat (slow motion). Lampu cak yang berbentuk piramid diganti dengan obor-obor yang dibawa oleh para penari.
Pada bagian akhir, perang antara Subali dan Sugriwa dilakukan di atas pundak orang-orang, dan mayat Subali dibungkus kain putih dan diusung keluar seperti yang terjadi dalam upacara kematian orang Bali.
16.2. Ngelawang
Pada tahun 1992 I Ketut Suteja, dosen STSI Denpasar, menampilkan sebuah garapan tari kontemporer yang diberi nama Ngelawang. Tari ini banyak diilhami oleh tari Barong Ket yang tidak asing lagi bagi masyarakat Bali. Ngelawang (dari kata lawang yang artinya pintu) adalah sebuah istilah dalam bahasa Bali yang berarti pertunjukan yang berpindah-pindah dari satu rumah ke rumah lain, atau dari satu desa ke desa yang lain. Pertunjukan seperti ini biasa dilakukan pada waktu hari - hari raya besar seperti Galungan dan Kuningan. Di tempat-tempat tertentu ngelawang juga diadakan apabila disuatu desa terjadi wabah penyakit.
16.3. Setan Bercanda
Tari ini menggambarkan sekelompok setan anak buah Ratu Gede Macaling yang menari-nari keriangan di tengah malam untuk menyebarkan wabah penyakit. (Lihat perihal Barong Landung, usaha menanggulangi hal ini)
Ditarikan oleh antara 5-6 orang penari pria yang bertelanjang dada dan berbusana daun-daunan, Setan Bercanda diiringi dengan musik yang sangat sederhana dari batu-batuan, pecahan bambu dan sepasang gangsa dari gamelan angklung.

17. MRESI
Tarian ini dibawakan oleh penari putra yang belum menikah, gerakan tarinya sangat sederhana namun berwibawa dengan keris sebagai senjata, mereka menari secara berpasangan dan berkelompok diiringi dengan gamelan Selonding. Busana yang dikenakan adalah busana upacara adat, tarian ini terdapat didesa Tenganan

18. PENDET
Tari putri yang memiliki pola gerak yang lebih dinamis dari tari Rejang yang dibawakan secara berkelompok atau berpasangan, ditampilkan setelah tari Rejang di halaman pura dan biasanya menghadap ke arah suci (pelinggih) dengan mengenakan pakaian upacara dan masing-masing penari membawa sangku, kendi, cawan dan perlengkapan sesajen lainnya

19. PREMBON
Prembon (per-imbuh-an) adalah dramatari campuran dari berbagai unsur dramatari klasik Bali yang ada. Sesungguhnya setiap dramatari yang diciptakan dengan cara menggabungkan berbagai unsur-unsur tari Bali yang telah ada dapat disebut sebagai Prembon.
Prembon muncul pada zaman revolusi, tepatnya tahun 1942, atas prakarsa para seniman dari Badung: I Nyoman Kaler dan dari Gianyar: I Wayan Griya dan I Made Kredek.
Ketika pertama kali diciptakan Prembon lahir dari penggabungan seni Patopengan dan Paarjaan. Lakon yang ditampilkan pada umunnya bersumber dari cerita Babad dan semi sejarah lainnya sebagaimana halnya dramatari Topeng sedangkan gamelan pengiringnya adalah Gamelan Gong Kebyar.
Di daerah Gianyar, Prembon yang banyak memasukan unsur-unsur Arja dan Gambuh biasa disebut Tetanrian

20. REJANG
Tarian yang memiliki gerak tari yang sederhana dan lemah gemulai, ditarikan oleh penari putri (pilihan maupun campuran dari berbagai usia) yang dilakukan secara berkelompok atau massal di halaman pura pada saat berlangsungnya suatu upacara. Bisa diiringi dengan gamelan Gong Kebyar atau Gong Gede.
Tari Rejang ini, oleh masyarakat Bali dibagi dalam beberapa jenis berdasarkan status sosial penarinya (Rejang Deha: ditarikan oleh remaja putri), cara menarikannya (Rejang Renteng : ditarikan dengan saling memegang selendang), tema dan perlengkapan tarinya terutama hiasan kepalanya (Rejang Oyopadi, Rejang Galuh, Rejang Dewa dll).
Di desa Tenganan, dalam upacara "Aci Kasa" ditarikan tari Rejang Palak, Rejang Mombongin, Rejang Makitut dan Rejang Dewa yang diiringi dengan gamelan Selonding yang masing-masing tarian Rejang tersebut dapat dilihat perbedaannya dari simbol-simbol dan benda sakral yang dibawa penarinya, pola geraknya, cara menarikannya dan tata busananya.

21. SANGHYANG
Tari Sanghyang adalah tari sakral, yang terdapat dalam rangkaian sebuah upacara adat suci. Sampai saat ini, tari Sanghyang tidak diadakan sekedar sebagai sebuah tontonan. Tari Sanghyang merupakan tari kerauhan (trance) karena kemasukan roh (bidadari khayangan dan binatang lainnya yang memiliki kekuatan merusak seperti babi hutan, monyet, atau yang mempunyai kekuatan gaib lainnya). Tari ini adalah warisan budaya Pra-Hindu yang dimaksudkan sebagai penolak bahaya, yaitu dengan membuka komunikasi spiritual dari warga masyarakat dengan alam gaib. Tarian ini dibawakan oleh penari putri maupun putra dengan iringan paduan suara pria dan wanita yang menyanyikan tembang-tembang pemujaan. Di daerah Sukawati-Gianyar, tari ini juga diiringi dengan Gamelan Palegongan.
Di dalam Tarian ini selalu ada tiga unsur penting yaitu asap/ api, Gending Sanghyang dan medium (orang atau boneka). Penyelenggaraannya melalui tiga tahap penting yaitu:
1. Nusdus : upacara penyucian medium dengan asap/ api
2. Masolah : penari yang sudah kemasukan roh mulai menari
3. Ngalinggihang : mengembalikan kesadaran medium dan melepas roh yang memasuki
dirinya untuk kembali ke asalnya
Beberapa jenis tari Sanghyang yang hingga kini masih ada di Bali, antara lain:
21.1. Sanghyang Celeng
Penarinya adalah seorang pria dengan busana terbuat dari ijuk, seperti seekor babi, dan diiringi dengan nyanyian paduan suara Gending Sanghyang yang sakral. Melalui tahap nusdus, roh babi didatangkan, dan dimasukkan ke dalam kesadaran si penari. Setelah kemasukan, penari akan merangkak berkeliling, menirukan tingkah laku seekor babi (masolah). Pada akhir tarian, penarinya disadarkan (ngalinggihang) dengan memercikkan air suci (tirta). Tarian ini terdapat di daerah Duda (Karangasem).
21.2. Sanghyang Dedari
Sebagaimana namanya, tari Sanghyang Dedari ini termasuk tarian sakral yang tidak untuk dipertontonkan sebagai fungsi pertunjukan, tetapi hanya diselenggarakan dalam rangkaian upacara suci. Tarian ini dilakukan oleh sepasang gadis cilik yang belum akil balig. Sebelum menari, kedua gadis tadi diupacarai untuk memohon datangnya sang Dedari ke dalam badan kasar mereka. Prosesi diiringi dengan paduan suara gending sanghyang yang dilakukan oleh kelompok paduan suara wanita dan pria. Kedua gadis itu kemudian pingsan, tanda bahwa roh dedari telah merasukinya.
Kemudian beberapa orang membangunkan dan memasangkan hiasan kepalanya, kedua gadis dalam keadaan tidak sadar, dibawa ke tempat menari. Di tempat menari, kedua gadis kecil itu diberdirikan di atas pundak dua orang pria yang kuat. Dengan iringan gamelan Palegongan, kedua penari menari-nari di atas pundak si pemikul yang berjalan berkeliling pentas. Gerakan tarian yang dilakukan mirip dengan tari Legong. Selama tarian berlangsung, mata kedua gadis itu tetap tertutup rapat. Menari di atas bahu seseorang tanpa terjatuh, tidak mungkin dilakukan oleh gadis-gadis cilik dalam keadaan sadar, apalagi biasanya si gadis belum pernah belajar menari sebelumnya. Sungguh menakjubkan.
Tarian suci ini diadakan dalam upacara memohon keselamatan dari bencana atau wabah penyakit yang menyerang suatu desa. Tarian ini terdapat di daerah Badung, Gianyar, dan Bangli.
21.3. Sanghyang Deling
Ditarikan oleh sepasang gadis cilik yang belum akil balig yang kemasukan roh Dewa Wisnu/ Dewi Sri (Dewi Kesuburan). Masing-masing penari memegang sebatang pohon yang dihubungkan dengan seutas benang di mana digantungkan dua buah boneka kecil (deling) yang dibuat dari daun lontar. Gerakan cepat dari deling tersebut menandakan penarinya telah kemasukan roh, kemudian mereka diusung oleh dua orang pengusung diiringi dengan nyanyian paduan suara gending sanghyang, kadang-kadang diiringi juga oleh gamelan. Tarian ini terdapat di daerah Kintamani (Bangli).
21.4. Sanghyang Jaran
Ditarikan oleh seorang pria atau seorang pemangku yang mengendarai sebuah kuda-kudaan yang terbuat dari pelepah daun kelapa. Penarinya kerasukan roh kuda tunggangan dewata dari khayangan, diiringi dengan nyanyian paduan suara yang melagukan gending sanghyang, berkeliling sambil memejamkan mata, berjalan dan berlari-kecil dengan kaki telanjang, menginjak-injak bara api batok kelapa yang dihamparkan di tengah arena.Tari ini diselenggarakan pada saat-saat prihatin, misalnya terjadi wabah penyakit atau kejadian lain yang meresahkan masyarakat, dan terdapat di daerah Denpasar, Badung, Gianyar dan Bangli.
21.5. Sanghyang Sampat
Ditarikan oleh seorang gadis yang telah kemasukan roh halus dengan perantara sapu lidi (sampat) yang digerak-gerakkan secara bebas ke kiri dan ke kanan. Ada pula tarian sejenis yang perantaranya sepotong bambu maka disebut tari Sanghyang Bungbung.

22. TOPENG
Topeng berarti penutup muka yang terbuat dari kayu, kertas, kain dan bahan lainnya dengan bentuk yang berbeda-beda. Dari yang berbentuk wajah dewa-dewi, manusia, binatang, setan dan lain-lainnya. Di Bali topeng juga adalah suatu bentuk dramatari yang semua pelakunya mengenakan topeng dengan cerita yang bersumber pada cerita sejarah yang lebih dikenal dengan Babad.
Dalam membawakan peran-peran yang dimainkan, para penari memakai topeng bungkulan (yang menutup seluruh muka penari), topeng sibakan (yang menutup hanya sebagian muka dari dahi hingga rahang atas termasuk yang hanya menutup bagian dahi dan hidung). Semua tokoh yang mengenakan topeng bungkulan tidak perlu berdialog langsung, sedangkan semua tokoh yang memakai topeng sibakan memakai dialog berbahasa kawi dan Bali.
Tokoh-tokoh utama yang terdapat dalam dramatari Topeng terdiri dari Pangelembar (topeng Keras dan topeng tua), Panasar (Kelihan - yang lebih tua, dan Cenikan yang lebih kecil), Ratu (Dalem dan Patih) dan Bondres (rakyat). Jenis-jenis dramatari topeng yang ada di Bali adalah :
Topeng Pajegan yang ditarikan oleh seorang aktor dengan memborong semua tugas-tugas yang terdapat didalam lakon yang dibawakan. Di dalam topeng Pajegan ada topeng yang mutlak harus ada, yakni topeng Sidakarya. Oleh karena demikian eratnya hubungan topeng Pajegan dengan upacara keagamaan, maka topeng ini pun disebut Topeng Wali. Dramatari Topeng hingga kini masih ada hampir diseluruh Bali.
Topeng Panca yang dimainkan oleh empat atau lima orang penari yang memainkan peranan yang berbeda-beda sesuai tuntutan lakon,
Topeng Prembon yang menampilkan tokoh-tokoh campuran yang diambil dari Dramatari Topeng Panca dan beberapa dari dramatari Arja dan Topeng Bondres, seni pertunjukan topeng yang masih relatif muda yang lebih mengutamakan penampilan tokoh-tokoh lucu untuk menyajikan humor-humor yang segar.

23. MAKARE – KAREAN
Disebut juga dengan tari Perang Pandan, merupakan salah satu tarian ketangkasan yang melibatkan para pemuda, dengan memakai kostum upacara adat, bertelanjang dada bersenjatakan seikat daun pandan berduri dan perisai untuk melindungi diri. Tari ini ditampilkan dalam upacara adat di desa Tenganan.
Yang menarik, meskipun nampaknya luka-luka yang ditimbulkan oleh senjata pandan berduri itu cukup parah, namun para penarinya tidak merasakan kesakitan. Pada akhir prosesi, luka-luka itu disembuhkan dengan menyiramkan air suci.

24. WAYANG KULIT
Wayang Kulit, seni pertunjukan yang sudah cukup tua umurnya, adalah salah satu bagian dari seni pertunjukan Bali yang hingga kini masih tetap digemari oleh masyarakat setempat. Di desa-desa maupun di kota, masyarakat masih sering mempergelarkan Wayang Kulit dalam kaitan dengan upacara agama Hindu, upacara adat Bali, maupun sebagai hiburan semata.
Wayang Kulit Bali terdiri dari dua jenis, yaitu:
1. Wayang Lemah ( Wayan Gedog)
2. Wayang Peteng

Asal-usul Wayang Kulit di Indonesia hingga kini masih diperdebatkan oleh para ahli dan masih belum ada kesepakatan apakah Wayang Kulit memang asli Indonesia, dari India ataupun dari negara lain. Di lingkungan budaya Bali, pertunjukan Wayang Kulit diperkirakan sudah ada sejak sekitar abad ke IX. Dalam prasasti Bebetin yang berangka tahun Çaka 818 ( 896 M), dari zaman pemerintahan raja Ugrasena di Bali, ditemukan sejumlah istilah seni pertunjukan yang diyakini berarti wayang atau pertunjukan wayang (baca : Serba Neka Wayang Kulit Bali, 1975).
Sejak masa lampau pertunjukan Wayang Kulit menjadi salah satu media pendidikan informal bagi warga masyarakat. Betapa tidak, pertunjukan Wayang Kulit yang memadukan berbagai unsur seni rupa, sastra, gerak dan suara, dalam pementasannya tidak saja menampilkan lakon-lakon literer yang diambil dari karya-karya sastra klasik terutama Mahabrata dan Ramayana, kesenian ini juga menyajikan petuah-petuah mengenai nilai-nilai moral, spiritual dan sosial sehingga masyarakat yang buta huruf akan memperoleh ajaran-ajaran tatwa, yadnya, etika dan lain-lain. Oleh masyarakat penonton semuanya ini dijadikan pedoman dan tuntunan bagi kehidupan mereka sehari-hari.
Sementara para dalang secara kreatif melakukan penyegaran kesenian mereka, wayang-wayang kreasi baru sudah banyak diciptakan sehingga menambah perbendaharaan seni perwayangan di pulau ini. Yang tidak kalah pentingnya adalah munculnya dalang-dalang wanita berbakat yang siap bersaing dengan para dalang pria.
Di Bali, pertunjukan Wayang Kulit melibatkan antara 3 orang sampai 15 orang yang meliputi : dalang, pengiring dan jika diperlukan sepasang pembantu dalang (tututan). Komando tertinggi dalam pertunjukan Wayang Kulit ada pada si dalang. Untuk mementaskan wayang para dalang Bali memerlukan sekitar 125 - 130 lembar wayang yang disimpan dalam kotak wayang (kropak).
Kiranya belumlah lengkap jika pembahasan mengenai seni pewayangan Bali tidak dilengkapi dengan adanya beberapa usaha inovasi dan kreatif dari para seniman dalang di pulau ini, atau memalui kerja patungan atau kolaborasi dengan seniman luar atau asing. Dalam usahanya memberikan nafas baru dalam wayang Parwa, dalang I Made Sidja atau Ida Bagus Ngurah (Buduk) memasukan gamelan Suling atau Pegambuhan. Belakangan ini dalang muda berbakat, Ida Bagus Sudiksa berkali-kali mementaskan wayang kulit Parwa dengan iringan gamelan Angklung lengkap, bahkan pernah dengan gamelan Balaganjur.
24.1. Wayang Lemah
Dipentaskan pada umumnya siang hari dan dilihat dari fungsinya adalah termasuk kesenian pelengkap upacara keagamaan. Di beberapa tempat disebut dengan Wayang Gedog.
Wayang ini dipentaskan tanpa menggunakan layar atau kelir, dan lampu blencong. Dalam memainkan wayangnya, dalang menyandarkan wayang-wayang pada seutas benang putih (benang tukelan) sepanjang sekitar setengah sampai satu meter yang diikat pada batang kayu dapdap yang dipancangkan pada batang pisang di kedua sisi dalang.
Gamelan pengiringnya adalah gender wayang yang berlaras slendro (lima nada). Wayang upacara ini, pementasannya sangat tergantung pada waktu pelaksanaan upacara keagamaan yang diiringinya, sehingga dapat dipentaskan pada siang hari, sore ataupun malam hari.
Pendukung pertunjukan ini adalah yang paling kecil, 3 sampai 5 orang yang terdiri dari seorang dalang dan satu atau dua pasang penabuh gender wayang. Sebagai kesenian upacara, pertunjukan wayang lemah biasanya mengambil tempat di sekitar tempat upacara dengan tidak mempergunakan panggung pementasan khusus.
Lakon yang dibawakan pada umumnya bersumber pada cerita Mahabrata yang disesuaikan dengan jenis dan tingkatan upacara yang diiringinya. Jangka waktu pementasan Wayang Lemah pada umumnya singkat, sekitar 1 sampai 2 jam.

24.2. Wayang Peteng
Wayang Peteng di bagi menjadi beberapa, diantaranya :
24.2.1. Wayang Parwa
Wayang Parwa adalah Wayang Kulit yang membawakan lakon - lakon yang bersumber dari wiracarita Mahabrata yang juga dikenal sebagai Astha Dasa Parwa. Wayang Parwa adalah Wayang Kulit yang paling populer dan terdapat di seluruh Bali. Wayang Parwa dipentaskan pada malam hari, dengan memakai kelir dan lampu blencong dan diiringi dengan Gamelan Gender Wayang.
Walaupun demikian, ada jenis Wayang Parwa yang waktu penyelenggaraannya tidak harus pada malam hari. Jenis itu adalah Wayang Upacara atau wayang sakral, yaitu Wayang Sapuh Leger dan Wayang Sudamala. Waktu penyelenggaraannya disesuaikan dengan waktu upacara keseluruhan.
Wayang Parwa dipentaskan dalam kaitannya dengan berbagai jenis upacara adat dan agama walaupun pertunjukannya sendiri berfungsi sebagai hiburan yang bersifat sekuler. Dalam pertunjukannya, dalang Wayang Parwa bisa saja mengambil lakon dari cerita Bharata Yudha atau bagian lain dari cerita Mahabharata. Oleh sebab itu jumlah lakon Wayang Parwa adalah paling banyak.
Di antara lakon-lakon yang umum dipakai, yang diambil dari kisah perang Bharata Yudha adalah: Gugurnya Bisma, Gugurnya Drona, Gugurnya Abhimanyu , Gugurnya Karna, Gugurnya Salya, Gugurnya Jaya-drata
Lakon - lakon terkenal sebelum Bharata Yudha misalnya: Sayembara Dewi Amba, Pendawa - Korawa Aguru, Pendawa - Korawa Berjudi, Sayembara Drupadi, Lahirnya Gatut Kaca, Aswameda Yadnya, Kresna Duta, Matinya Supala dan lain-lain.
Salah satu ciri khas dari pertunjukan Wayang Ramayana adalah penampilan pasukan keranya (palawaga) dengan pola gerak dan iringan musiknya yang berbeda-beda. Wayang Ramayana didukung oleh sekitar 14 (empat belas) orang yang terdiri dari:
24.2.2. Wayang Ramayana
Adalah wayang kulit yang membawa lakon-lakon dari wiracarita Ramayana. Wayang ini dipentaskan pada malam hari, memakai kelir dan lampu blencong, dengan diiringi gamelan batel pewayangan berlaras slendro lima nada yang energik dan dinamis. Wayang Ramayana biasanya dipentaskan sebagai sajian seni hiburan yang bersifat sekuler. Dalam pertunjukannya, dalang wayang Ramayana pada umumnya mementaskan lakon dari bagian Kiskenda Kanda sampai dengan Uttara Kanda.
Lakon - lakon wayang Ramayana yang biasa disajikan antara lain: Perang Subali Sugriwa
Karebut Kumbakarna, Anggada Lina, Meganada Antaka, Katundung Hanoman, Kabiseka Anggada, Anoman Watugangga, Rama Hilang
Salah satu ciri khas dari pertunjukan Wayang Ramayana adalah penampilan pasukan keranya (palawaga) dengan pola gerak dan iringan musiknya yang berbeda-beda.
24.2.3. Wayang Gambuh
Adalah salah satu jenis wayang Bali yang langka, pada dasarnya adalah pertunjukan Wayang Kulit yang melakonkan ceritera Malat, seperti wayang panji yang ada di Jawa.
Karena lakon dan pola acuan pertunjukan adalah Dramatari Gambuh, maka dalam banyak hal wayang Gambuh merupakan pementasan Gambuh melalui wayang kulit. Tokoh-tokoh yang ditampilkan ditransfer dari tokoh-tokoh Pegambuhan, demikian pula gamelan pengiring dan bentuk ucapan-ucapannya.
Konon perangkat wayang Gambuh yang kini tersimpan di Blahbatuh adalah pemberian dari raja Mengwi yang bergelar I Gusti Agung Sakti Blambangan, yang membawa wayang dari tanah Jawa (Blambangan) setelah menaklukan raja Blambangan sekitar tahun 1634. Almarhum I Ketut Rinda adalah salah satu dalang wayang Gambuh angkatan terakhir yang sebelum meninggal sempat menurunkan keahliannya kepadaI Made Sidja dari (Bona) dan I Wayan Nartha (dari Sukawati).
24.2.4. Wayang Calonarang
Wayang Calonarang juga sering disebut sebagai wayang Leyak, adalah salah satu jenis wayang kulit Bali yang dianggap angker karena dalam pertunjukannya banyak mengungkapkan nilai-nilai magis dan rahasia pangiwa dan panengen. Wayang ini pada dasarnya adalah pertunjukan wayang yang mengkhususkan lakon-lakon dari ceritera Calonarang. Sebagai suatu bentuk seni perwayangan yang dipentaskan sebagai seni hiburan, wayang Calonarang masih tetap berpegang pada pola serta struktur pementasan wayang kulit tradisional Bali (Wayang Parwa).
Pagelaran wayang kulit Calonarang melibatkan sekitar 12 orang pemain yang terdiri dari:
1 orang dalang, 2 orang pembantu dalang dan 9 orang penabuh
Diantara lakon-lakon yang biasa dibawakan dalam pementasan wayang Calonarang ini adalah: Katundung Ratnamangali, Bahula Duta , Pangesengan Beringin
Kekhasan pertunjukan wayang Calonarang terletak pada tarian sisiya-nya dengan teknik permainan ngalinting dan adegan ngundang-ngundang di mana sang dalang membeberkan atau menyebutkan nama-nama mereka yang mempraktekkan pangiwa. Hingga kini wayang Calonarang masih ada di beberapa Kabupaten di Bali walaupun popularitasnya masih di bawah wayang Parwa.
24.2.5. Wayang Sasak
Di Karangasem terdapat wayang kulit bernafaskan budaya Islam dari kelompok suku Sasak (Lombok Barat) yang disebut Wayang Sasak. Wayang yang mengambil lakon-lakon dari cerita Islam, khususnya dari Serat Menak ini, belakangan ini sudah sangat jarang dipentaskan karena para pelakunya terutama dalangnya yang sudah tiada.
Wayang Sasak dalam banyak hal merupakan perpaduan unsur-unsur seni budaya Bali dengan Sasak. walaupun lakon yang dibawakan adalah cerita Islam, bahasa yang dipakai terdiri dari bahasa Kawi, Bali dan Sasak. Gamelan pengiringnya, seperti yang terlihat dalam Festival Wayang Walter Spies tahun 1996, adalah ensambel kecil yang terdiri dari: sebuah suling, sebuah pleret, sepasang kendang, sebuah kempul, tawa-tawa, cengceng kecil
Gamelan seperti ini banyak persamaannya dengan gamelan Arja atau Pagambuhan Bali. Tata penyajian Wayang Sasak sama dengan Wayang Kulit Bali; penonton menyaksikan bayangan wayang dari balik kelir (bukan dari sisi dalang).
24.2.6. Wayang Arja
Adalah sebuah ciptaan baru yang diciptakan pada tahun 1975 oleh dalang I Made Sidja dari desa Bona, atas dorongan almarhum I Ketut Rindha. Permunculan wayang ini banyak dirangsang oleh kondisi kehidupan Dramatari Arja yang ketika itu memprihatinkan, didesak oleh Drama Gong. Walaupun masih tetap mempertahankan pola pertunjukan wayang tradisional Bali, Wayang Arja menampilkan lakon-lakon yang bersumber pada cerita Panji (Malat).
Dalam wayang ini plot dramatik disusun hampir sama dengan yang terdapat di dalam Dramatari Arja. Oleh sebab itu pertunjukan Wayang Arja berkesan pagelaran Arja dalam bentuk Wayang Kulit. Pertunjukan Wayang Arja melibatkan sekitar 12 orang pemain yang terdiri dari: 1 orang dalang, 2 orang pembantu dalang, 9 orang penabuh Gamelan Gaguntangan yang berlaras pelog dan slendro.
Di antara lakon-lakon yang biasa ditampilkan adalah: Waringin Kencana, Klimun Ilang Srepet Teka, Pakang Raras, Banda Kencana
Kekhasan pertunjukan Wayang Arja terasa pada seni suara vokalnya yang memakai tembang-tembang macapat yang biasa dipergunakan dalam pertunjukan Dramatari Arja. Juga, bentuk wayangnya menirukan tokoh-tokoh utama dalam Arja dengan segala atributnya. Wayang Arja kurang begitu populer di Bali, walaupun dalang yang biasa membawakan wayang ini terdapat hampir di seluruh Bali.
24.2.7. Wayang Tantri
Wayang Tantri adalah wayang kreasi baru. Walaupun struktur pertunjukan, bentuk-bentuk wayangnya dan dialognya masih tetap mengacu kepada wayang tradisional Bali (kecuali figur-figur binatangnya).
Lakon yang dibawakan adalah cerita Ni Diah Tantri dan cerita-cerita mengenai kehidupan binatang lainnya. Wayang ini pertama kali diciptakan pada tahun 1981 oleh I Made Persib, mahasiswa jurusan Seni Pedalangan pada Akademi Seni Tari Indonesia (ASTI) Denpasar, sebagai sebuah garapan pakeliran baru untuk ditampilkan pada Festival Seni Institut Kesenian Indonesia (IKI) di Bandung.
Waktu itu Made Persib memilik lakon "Pedanda Baka" atau "Cangak Maketu". Dua tahun kemudian, dengan penafsiran dan penggarapan yang lebih kaya, didukung ketrampilan teknik yang lebih matang, dalang kondang I Wayan Wija dari Banjar Babakan Sukawati mementaskan Wayang Tantri versi baru yang diiringi dengan gamelan batel Semar Pagulingan yang berlaras pelog. Jumlah pemain Wayang Tantri hampir sama dengan Wayang Ramayana.
Selain seorang dalang dengan dua orang pembantunya, dalam rombongan Wayang Tantri ini juga ada sekitar 13 orang penabuh gamelan yang memainkan 4 gender rambat, 2 kendang, 1 kajar, 1 klenang, 1 kempur dan kemong, 1 cengceng dan beberapa buah suling. Munculnya wayang Tantri ini tentu saja semakin memperkaya dan menyemarakkan seni pewayangan Bali. Namun yang lebih penting untuk dicatat adalah bahwa wayang Tantri membawa inovasi penting terutama dalam seni musik wayang yang selama ini didominir oleh musik - musik berlaras slendro. Juga cukup menonjol adalah penampilan figur-figur binatang dengan gerak-geriknya yang mendekati kenyataan.
24.2.8. Wayang Babad
Wayang Babad adalah wayang kulit kreasi baru Bali yang paling muda dan oleh sebab itu masih mencari-cari identitas diri. Walaupun struktur pertunjukan bentuk-bentuk wayangnya dan dialognya masih tetap mengacu kepada pola wayang tradisional Bali, kecuali figur- figur bondresnya, lakon yang dibawakan adalah cerita sejarah Bali atau Babad, sumber lakon dari dramatari Topeng Bali.

25. WAYANG WONG
Wayang Wong pada dasarnya adalah seni pertunjukan topeng dan perwayangan dengan pelaku-pelaku manusia atau orang (wong). Dalam membawakan tokoh-tokoh yang dimainkan, semua penari berdialog, semua tokoh utama memakai bahasa Kawi sedangkan para punakawan memakai bahasa Bali. Pada beberapa bagian pertunjukan, para penari juga menyanyi dengan menampilkan bait - bait penting dari Kakawin.
Di Bali ada dua Jenis Wayang Wong, yaitu Wayang Wong Ramayana, dan Wayang Wong Parwa. Wayang Wong Ramayana kemudian disebut Wayang Wong saja, ialah dramatari perwayangan yang hanya mengambil lakon dari wira carita Ramayana. Hampir semua penari mengenakan topeng. Diiringi dengan gamelan Batel Wayang yang berlaras Slendro.
Terdapat di desa-desa: Mas, Telepud, Den Tiyis (Gianyar), Marga, Apuan, Tunjuk, Klating (Tabanan), Sulahan (Bangli), Wates Tengah (Karangasem), Bualu (Badung), Prancak, Batuagung (Jembrana).
Wayang Wong Parwa yang biasa disebut Parwa yakni dramatari wayang wong yang mengambil lakon wira carita Mahabrata (Asta Dasa Parwa). Para penarinya umumnya tidak mengenakan topeng, kecuali para punakawan, seperti Malen, Merdah, Sanggut, Delem. Diiringi gamelan Batel Wayang yang berlaras Slendro.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar