Dapat dolar gratiss.. tak kasih tau carane yo

Senin, 20 April 2009

PERKEMBANGAN KOGNITIF PADA MASA BAYI

1. TEORI PIAGET TENTANG PERKEMBANGAN BAYI
 Piaget yakin bahwa seorang anak melalui serangkaian tahap pemikiran dari masa bayi hingga masa dewasa. Kemampuan bayi melalui tahap-tahap tersebut berasal dari tekanan biologis untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan dan adanya pengorganisasian struktur berpikir.
 Perkembangan pemikiran bayi dibagi dalam empat tahap yaitu:
a. Tahap perkembangan sensorik motorik.
b. Tahap praoperasional.
c. Tahap operasional konkret.
d. Tahap operasional formal.

1.1 Tahap Perkembangan Sensorik-Motorik
 Tahap ini berlangsung dari lahir hingga kira-kira hingga usia 2 tahun dan meliputi kemajuan dalam kemampuan bayi untuk mengorganisasikan sensasi yang diterima melalui gerakan-gerakan fisik.
 Tahap sensorik – motorik dibagi menjadi enam subtahap yaitu :
1. Refleks sederhana ( simple reflexs)
 Pengertian : suatu subtahap sensorik motorik pertama Piaget.
 Waktu : bulan pertama setelah kelahiran.
 Karakteristik : pada subtahap ini, alat dasar koordinasi sensasi dan aksi ialah melalui perilaku refleksif. Bayi mengembangkan suatu kemampuan untuk menghasilkan perilaku yang menyerupai refleks dalam ketiadaan rangsang reflektif yang jelas.
 Contoh : bayi dalam tahap ini dapat langsung menghisap botol susu yang didekatkan bayi.
2. Kebiasaan – kebiasaan pertama dan reaksi sirkuler primer (first habits and primary circular reactions).
 Pengertian : subtahap sensorik-motorik Piaget kedua
 Waktu : antara usia 1 dan 4 bulan.
 Karakteristik : pada subtahap ini, bayi belajar mengorganisasikan sensasi dan tipe skema atau struktur , yaitu kebiasaan-kebiasaan dan reaksi sirkuler primer.

 Suatu kebiasaan ialah suatu skema yang didasarkan atas satu refleks yang sederhana
Contoh : Seorang bayi pada subtahap 1 akan menghisap bila secara oral dirangsang oleh suatu botol , tetapi pada subtahap 2 ini dapat melatih isapan bahkan bila tidak ada botol muncul.
 Reaksi sirkuler primer ialah suatu skema yang didasarkan pada usaha bayi untuk memproduksi suatu peristiwa yang menarik atau menyenangkan yang pada mulanya terjadi secara kebetulan.
Contoh : Seorang anak secara kebetulan menghisap jarinya ketika jarinya didekatkan di dekat mulutnya, kemudian dia mencarinya untuk dihisap lagi, tetapi jari tidak bekerja sama dalam pencarian karena bayi tidak dapat mengkoordinasikan tindakan visual dan tindakan manual.
3. Reaksi sirkuler sekunder ( secondary circular reaction )
 Pengertian : subtahap sensorik motorik ketiga Piaget
 Waktu : antara usia 4 dan 8 bulan.
 Karakteristik : Pada subtahap ini, bayi semakin berorientasi atau berfokus pada benda di dunia, yang bergerak di dalm keasyikan dengan diri sendiri dalam interaksi sensorik motorik.
 Contoh : Kesempatan menggoyang-goyangkan suatu mainan yang berbunyi kertak – kertak, misalnya dapat menakjubkan bayi dan selanjutnya akan mengulang tindakan ini dalam rangka mengalami ketakjuban, bayi meniru tindakan orang lain seperti berbicara,dll.
4. Koordinasi reaksi sirkuler sekunder ( coordination secondariy circular reaction )
 Pengertian : subtahap sensorik motorik Piaget keempat.
 Waktu : antara usia 8 dan 12 tahun.
 Karaktristik : Pada subtahap ini, beberapa perubahan yang signifikan berlangsung meliputi koordinasi skema dan kesenjangan. Bayi dapat mengkoordinasikan dan mengkombinasikan ulang skema yang telah dipelajari sebelumnya dengan cara yang terkoordinasi.
Berkaitan dengan koordinasi ini adalah antara pencapaian kedua adanya kesenjangan(intentionality), pemisahan cara dan tujuan dalam melaksanakan perbuatan yang sederhana.

 Contoh : Bayi dapat menggunakan suatu tongkat ( cara )untuk meraih suatu mainan yang diinginkan di dalam jangkauan tertentu ( tujuan ).
5. Reaksi sirkuler tersier, kesenangan atas sesuatu yang baru dan keingintahuan (tertiery circular reaction, novelty and curiosity ).
 Pengertian : Subtahap sensorik – motorik kelima Piaget. Yaitu suatu skema di mana bayi dengan tujuan tertentu menjelajahi kemungkinan- kemungkinan baru pada benda-benda dan terus- menerus mengubah apa yang dilakukan terhadap benda-benda itu dan mengamati hasilnya.
 Waktu : antara usia 12 dan 18 bulan.
 Karakteristik : Pada subtahap ini, bayi semakin tergugah minatnya oleh berbagai hal yang ada pada benda-benda itu dan oleh banyaknya hal yang dapat mereka lakukan pada benda-benda itu.
 Contoh : Balok dapat dibuat jatuh, berputar atau ditabrakan ke benda lain.
6. Internalisasi skema (Internalization of schemes)
 Pengertian : Subtahap sensorik-motorik keenam Piaget.
 Waktu : Antara usia 18 dan 24 bulan.
 Karakteristik : Pada subtahap ini, fungsi mental bayi berubah dari suatu taraf sensorik-motorik murni menjadi suatu taraf simbolis dan bayi mulai mengembangkan kemampuan untuk menggunakan simbol- simbol primitif. Simbol primitif adalah representasi peristiwa yang dialami bayi melalui sensoris gambar atau kata yang terinternalisasi dalam dirinya.
 Contoh : Seorang anak membuka pintu pelan-pelan agar setumpuk kertas yang diletakkan di atas lantai tidak terbang kemana-mana. Dengan jelas anak memiliki suatu gambaran kertas atas kertas yang belum pernah dia lihat sebelumnya dan apa yang terjadi pada kertas itu bila pintu dibuka dengan cepat.
1.2 Ketetapan Benda (Object permanence )
 Ketetapan benda mengacu pada perkembangan kemampuan untuk memahami benda-benda dan peristiwa – peristiwa tetap ada walaupun bayi tidak lagi terlibat kontak dengan benda dari peristiwa itu.
 Cara yang ditempuh untuk mendapatkan pemahaman atas ketetapan benda pada bayi ialah dengan melihat reaksi seorang bayi ketika suatu benda atau peristiwa yang menarik perhatian dijauhkan dari bayi. Kalau bayi tidak memperlihatkan reaksi, itu dianggap mereka yakin benda itu tidak ada lagi. Sebaliknya kalau bayi terheran-heran atas hilangnya benda itu dan mencari benda itu, hal ini berarti mereka yakin benda itu tetap ada.

2. PERSPEKTIF BARU TENTANG PERKEMBANGAN KOGNITIF PADA MASA BAYI
 Pada dasawarsa lalu, muncul suatu pemahaman baru tentang perkembangan kognitif bayi setelah adanya penelitian perkembangan kognitif bayi.
 Teori perkembangan sensorik motorik Piaget disanggah dari dua sumber, yaitu:
1. Penelitian yang mendalam di bidang perkembangn persepsi bayi menunjukkan bahwa suatu dunia persepsi yang lebih stabil dan nyata telah dibangun jauh lebih awal pada masa bayi dibandingkan dengan yang dibayangkan oleh Piaget.
2. Para peneliti baru-baru ini telah menemukan memori dan betuk-bentuk kegiatan simbolis lainnya terjadi sekurang-kurangnya pada semester kedua tahun pertama.
 Perkembangan persepsi dan konsepsi pada bayi menunjukkan bahwa bayi memiliki kemampuan persepsi yang lebih canggih dan dapat memulai berpikir jauh lebih awal dibandingkan apa yang dibayangkan oleh Piaget.
 Para peneliti yakin bahwa bayi terlahir dengan apa atau memperoleh kemampuan-kemampuan ini sebelumnya di dalam perkembangan mereka.

3. PERSPEKTIF PEMROSESAN INFORMASI DAN PERKEMBANGAN BAYI
 Tidak seperti Piaget, para pakar psikologi pemrosesan informasi tidak menggambarkan masa bayi sebagai suatu tahap atau serangkaian subtahap perkembangan sensorik motorik. Sebaliknya mereka menekankan pentingnya perkembangan kognitif seperti perhatian , memory dan pemikiran.
 Piaget yakin bahwa kemampuan bayi untuk membangun skema sensorik motorik,meniru, membentuk gambaran atas benda yang bayi lihat dicapai pada pertengahan kedua tahun kedua, tetapi para pakar psikologi pemrosesan informasi yakin bahwa kemampuan-kemampuan perhatian, simbolis, imitasi dan konseptual terjadi jauh lebih awal dan maju dalam perkembangan mereka, termasuk perkembangan dalam hal memori dan imitasi.



3.1 Habituasi dan Dishabituasi
 Pembiasaan (habituation) adalah penyajian yang berulang-ulang dari stimulus yang sama yang menyebabkan berkurangnya perhatian terhadap rangsangan.
Contoh : apabila suatu rangsangan (cahaya atau suara) ditujukan kepada bayi beberapa kali secara berturut-turut, mereka biasanya kurang memberi perhatian terhadap rangsangan itu.
 Dishabituation ialah suatu minat yang diperbaharui seorang bayi terhadap suatu rangsangan.
Contoh : apabila bayi diberikan rangsangan yang berbeda dari jenis rangsangan sebelumnya dan bayi memberi perhatian terhadap rangsangan itu, maka hal itu disebut dishabituasi.
3.2 Memori
 Memory adalah unsur pusat perkembangan kognitif, yang memuat seluruh situasi yang didalamnya individu menyimpan informasi yang ia terima sepanjang waktu.
 Memori berkembang jauh lebih awal pada masa bayi dan lebih spesifik daripada kesimpulan yang dikemukakan sebelumnya.
3.4 Imitasi
 Kemampuan imitasi bayi secara biologis telah muncul sejak lahir karena bayi ternyata dapat meniru ekspresi wajah dalam beberapa hari pertama setelah kelahiran.
 Meltzoff mempelajari imitasi yang ditunda (deferred imitation) yang merupakan imitasi yang terjadi setelah suatu penundaan waktu berjam-jam atau berhari-hari.
Penelitian Meltzoff  Dalam suatu investigasi Meltzoff mendemonstrasikan bahwa bayi berusia 9 bulan dapat meniru tindakan yang mereka lihat dilakukan 24 jam sebelumnya.
Piaget yakin bahwa imitasi yang ditunda terjadi pada usia kira 18 bulan, Meltzoff menunjukkan bahwa imitasi ini jauh lebih awal dalam perkembangan bayi.

4. PERBEDAAN-PERBEDAAN INDIVIDUAL DALAM INTELEGENSI
 Skala perkembangan intelegensi bagi balita muncul sebagai akibat dari adanya pelaksanaan tes IQ pada anak-anak yang lebih besar, tetapi ukuran-ukuran yang mengukur bayi pada dasarnya kurang verbal dibandingkan dengan tes IQ yang mengukur intelegensi anak-anak yan lebih tua.
 Tes intelegensi bayi berguna dalam mengukur berapa besar dampak kekurangan gizi, obat-obatan, kehilangan kasih sayang ibu (maternal deprivation) dan rangsangan lingkungan dalam perkembangan bayi.


 Test perkembangan Bayi Gesell
 Gesel adalah salah seorang pengembang awal tes bayi dengan mengembangkan suatu ukuran yang digunakan sebagai suatu alat klinis untuk memisahkan bayi-bayi yang berpotensi normal dan abnormal.
 Versi tes yang digunakan Gesell yaitu Development Quotien (DQ) yaitu skor perkembangan keseluruhan yang meliputi subskor pada bidang motorik, bahasa, daya suai (adaptive) dan interaksi personal-sosial dalam pengukuran bayi. Akan tetapi, skor keseluruhan tidak berkolerasi tinggi dengan skor IQ yang diperoleh selanjutnya pada masa anak-anak, karena skalanya tidak bersifat verbal dibandingkan komponen pada tes intelegensi kepada anak-anak yang lebih besar.
 Skala perkembangan Bayi Bayley (Bayley scales of Infant Development)
 Dikembangkan oleh Nancy Bayley yang digunakan secara luas dalam pengukuran perkembangan bayi yang dapat memperlihatkan perilaku bayi dan meramalkan perkembangan kemudian.
 Versi Bayley memiliki 3 komponen yaitu : skala mental, skala motorik dan profil perilaku bayi.
 Ukuran intelegensi bayi sebetulnya bukanlah peramal yang baik tentang ukuran intelegensi pada masa anak-anak. Akan tetapi, aspek-aspek khusus intelegensi bayi berkaitan dengan aspek-aspek khusus intelegensi masa anak-anak.
Aspek khusus tersebut misalnya kemampuan bahasa balita sangatlah berkaitan dengan kemampuan bahasa, kemampuan membaca dan mengeja pada usia 6 hingga 8 tahun.

5. PERKEMBANGAN BAHASA
5.1 Apa itu Bahasa ?
 Bahasa (language) adalah suatu sistem simbol yang digunakan untuk berkomunukasii dengan orang lain.Pada manusia, bahasa ditandai oleh daya cipta yang tidak pernah habis dan adanya sebuah sistem aturan.
 Daya cipta yang tidak pernah habis (infinite generativy) adalah suatu kemampuan individu untuk menciptakan sejumlah kalimat bermakna yang tidak pernah berhenti dengan menggunakan seperangkat kata dan aturan yang terbatas, yang menjadikan bahasa sebagai upaya yang sangat kreatif.
 Sistem aturan bahasa mencakup fonologi, morfologi, sintaksis, semantik dan pragmatik.



5.2 Pengaruh Biologis
 Fakta bahwa evolusi biologis membentuk manusia menjadi makhluk linguistik
 Dalam kaitannya dengan evolusi biologis, otak, sistem syaraf, dan sistem suara berevolusi selama ratusan ribu tahun.
5.3 Keterikatan Biologis (Biological Prewiring)
 Noam Chomsky berpendapat bahwa manusia terikat secara biologis untuk mempelajari bahasa pada suatu waktu tertentu dan cara tertentu dan memiliki suatu alat penguasaan bahasa
 Alat penguasaan bahasa atau Language acquisition Device (LAD) ialah suatu kemampuan tata bahasa bawaan yang mendasari semua bahas manusia yang memiliki keterikatan biologis yang memudahkan manusia (anak) untuk mendeteksi kategori bahasa tertentu, seperti fonologi, semantik dll.
5.4 Apakah binatang memiliki bahasa?
 Semua binatang dapat berkomunikasi satu sama lain dan beberapa diantaranya misalnya simpanse dapat dilatih memanipulasi simbol-simbol yang mirip bahasa.
 Tetapi sampai saat ini para peneliti masih memperdebatkan apakah binatang memiliki perangkat bahasa yang sama dengan perangkat bahasa manusia.
5.5 Adakah suatu Periode yang Penting untuk Mempelajari Bahasa ?
 Tahun-tahun awal masa anak-anak merupakan periode yang penting untuk belajar bahasa. Jika pengenalan bahasa tidak terjadi sebelum masa remaja, maka ketidakmampuan dalam menggunakan tata bahasa yang baik akan dialami seumur hidup.
5.6 Pengaruh Perilaku dan Lingkungan
 Bahasa hanyalah bentuk lain dari perilaku. Para ahli perilaku yakin bahasa dipelajari khususnya melalui penguatan dan imitasi, walaupun kemungkinan ini lebih merupakan usaha yang memudahkan pembelajaran bahasa daripada hal mutlak diperlukan.
 Kebanyakan anak diperkenalkan dengan bahasa sejak awal perkembangan mereka . Beberapa cara orang dewasa mengajarkan bahasa pada bayi adalah dengan motherese, recasting, echoing, expanding dan labeling.
 Strategi yang digunakan oleh orang dewasa untuk memperkaya penguasaan bahasa anak antara lain:
1. Motherese
 ialah satu peran yang membangkitkan rasa ingin tahu dalam penguasaan bahasa pada anak kecil. Motherese yakni cara ibu dan orang dewasa sering berbicara pada bayi dengan frekuensi dan hubungan yang lebih luas daripada normal, dan dengan kalimat yang sederhana.
2. Recasting (Menyusun Ulang)
 ialah pengucapan makna suatu kalimat yang sama atau yang mirip dengan cara yang berbeda, barangkali dengan mengubahnya menjadi suatu pertanyaan.

 Contoh : Jika seorang anak mengatakan “ Anjing itu menggonggong “ , orang dewasa dapat merespon “ Kapan anjing itu menggonggong?”. Dampak recasting sesuai dengan anjuran ‘mengikuti untuk mengarahkan‘ menolong anak untuk mempelajari bahasa, yakni memberi komentar, menjelaskan dll.
3. Echoing (Menggemakan)
 Ialah mengulang apa yang anak katakan pada anda, khusunya kalau perkataan itu adalah suatu ungkapan atau kalimat yang tidak sempurna.
4. Expanding (Memperluas)
 Ialah menyatakan ulang apa yang anak telah katakan dalam bahasa yang secaralinguistik canggih.
5. Labeling (Memberi Nama)
 Ialah mengidentifikasikan nama-nama benda.
5.7 Bagaimana Bahasa Berkembang ?
 Beberapa tonggak masa perkembangan bahasa pada masa bayi yaitu :
1. Mengoceh  usia 3 – 6 bulan
Permulaan mengoceh ditentukan oleh kematangan biologis, bukan oleh penguatan (reinforcement), pendengaran atau interaksi pengasuh bayi.
Tujuan komunikasi sejak bayi adalah menarik perhatian orang tua dan orang lain di sekitar.
2. Pemahaman kata-kata pertama oleh bayi  usia 6 – 9 bulan
3. Pertumbuhan pembendaharaan kata yang diterima  usia 9 – 12 bulan
Pertumbuhan pembendaharaan kata yang diterima mencapai 300 kata atau lebih, dan mulai mengerti pelajaran, seperti kata ‘daah’ yang diucapkan ketika berpisah.
4. Pengucapan kata pertama  usia 10 – 15 bulan.
Pengucapan kata pertama terjadi pada usia ini. Perbendaharaan kata ucapan bayi meningkat secara cepat rata-rata mencapai 200 – 275 pada usia 2 tahun.
 Hipotesis Holofrase (holoprhrase hypothesis)
 Hipotesis holofrase menyatakan bahwa suatu kata tunggal sering digunakan untuk mengartikan suatu kalimat yang sempurna,hal ini menandai kata pertama bayi.
 Pada usia 18 – 24 bulan, bayi sering berbicara dengan pengucapan dua kata. Selama tahap dua kata ini, bayi dengan cepat memahami pentingnya mengekspresikan konsep dan peran yang dimainkan oleh bahasa dalam berkomunikasi dengan orang lain.
 Cara Berbicara Telegrafis
 Ialah penggunaan kata-kata yang pendek dan tepat utnuk berkomuikasi, ini menandai pengucapn dua kata oleh bayi.
 Mean Length of Utterance (MLU) / Panjang Pengucapan Rata-rata (Roger Brown)
 Yaitu sebuah indeks yang perkembangan bahasa yang didasarkan atas jumlah kata per kalimat yang dihasilkan oleh seorang anak di dalam suatu sampel yang terdiri dari sekitar 50 hingga 100 kalimat, sebagai suatu indeks kematangan yang baik.Tahapan MLU :

Tahap MLU
1 1+ 2,0
2 2,5
3 3,0
4 3,5
5 4,0


Tahap 1 mulai ketika anak menciptakan kalimat yang teridiri dari satu kata, tanda 1+ menunjukkan bahwa jumlah rata-rata kata pada masing –masing ucapan lebih banyak dari satu tetapi belum sampai dua. Tahap ini berlanjut hingga anak memiliki rata-rata dua kata per pengucapan,dst

 Perkembangan pemahaman bahasa pada anak bukan saja sangat dipengaruhi oleh kondisi biologis anak, tetapi lingkungan bahasa di sekitar anak sejak usia dini jauh lebih penting dalam perkembangan bahasa mereka terutama peran orang tua dan orang lain di sekitar anak.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar